Delapan Cita-Cita, Satu Syarat Utama
Asta Cita dapat mempunyai delapan tujuan, ribuan program, dan anggaran yang sangat besar. Namun, seluruhnya bergantung pada satu syarat utama: negara harus mampu menjaga kepercayaan rakyat.
Kepercayaan tidak dapat diperintah.
Ia tidak dapat dibeli melalui iklan.
Ia tidak dapat dipertahankan hanya dengan pidato.
Kepercayaan lahir ketika rakyat melihat hukum berlaku adil.
Kepercayaan tumbuh ketika pejabat tinggi diperiksa dengan standar yang sama seperti warga biasa.
Kepercayaan menguat ketika polisi hadir untuk melindungi, bukan menakut-nakuti.
Kepercayaan menjadi fondasi pembangunan ketika negara berani mengakui masalah dan menyelesaikannya.
Listyo Sigit menjaga syarat utama tersebut.
Dengan menjaga hukum, ia menjaga kepercayaan.
Dengan menjaga kepercayaan, ia menjaga stabilitas.
Dengan menjaga stabilitas, ia menjaga pembangunan.
Dengan menjaga pembangunan, ia menjaga jalan Asta Cita.
Rangkaian itulah yang menempatkan Polri jauh melampaui peran pengamanan rutin. Bhayangkara menjadi penjaga fondasi tempat seluruh agenda negara didirikan.
Jika fondasi itu kokoh, Asta Cita dapat menjulang.
Jika fondasi itu runtuh, seluruh cita-cita akan tenggelam bersama hilangnya kepercayaan rakyat.
Sang Jenderal dan Barisan Penjaga Republik
Seorang jenderal tidak berjalan sendirian.
Di belakang Listyo Sigit berdiri ratusan ribu anggota Polri yang bekerja di tengah panas, hujan, bahaya, sorotan, dan tuntutan masyarakat.
Tidak semuanya dikenal.
Tidak semuanya memperoleh penghargaan.
Banyak yang menjalankan tugas jauh dari kamera, menjaga wilayah terpencil, mendamaikan konflik, menemukan anak hilang, mengawal bantuan, membongkar jaringan kejahatan, dan pulang ketika keluarganya telah terlelap.
Mereka adalah wajah nyata Bhayangkara.
Mereka menjaga Republik bukan melalui kalimat besar, tetapi melalui pengabdian yang berulang setiap hari.
Listyo Sigit adalah pemegang kompas barisan tersebut.
Ke mana kompas itu diarahkan akan menentukan wajah Polri dalam sejarah.
Apabila diarahkan kepada kekuasaan semata, Bhayangkara akan kehilangan rakyat.
Apabila diarahkan kepada hukum, kemanusiaan, dan kepentingan nasional, Bhayangkara akan menjadi benteng yang tidak dapat digantikan oleh institusi mana pun.
Jalan kedua itulah yang harus terus dijaga.
Sebab Asta Cita tidak hanya membutuhkan program.
Asta Cita membutuhkan pengawal.
Ia membutuhkan mereka yang bersedia terjaga ketika bangsa tertidur.
Ia membutuhkan mereka yang berdiri ketika ancaman datang.
Ia membutuhkan mereka yang berani masuk ketika orang lain memilih keluar.
Ia membutuhkan Bhayangkara.











