Dari Api Moral Menjadi Perisai Negara
Hoegeng mewariskan api moral kepada kepolisian: kejujuran, keberanian, kesederhanaan, dan keteguhan untuk tidak menunduk kepada kekuasaan.
Listyo Sigit membawa api itu memasuki zaman yang jauh lebih rumit.
Musuh republik hari ini tidak selalu datang dengan senjata di tangan. Ia dapat datang dengan jas mahal, dokumen resmi, perusahaan berlapis, rekening tersembunyi, pengaruh politik, dan akses menuju pusat kekuasaan.
Korupsi dapat bersembunyi di balik program pembangunan.
Pencucian uang dapat menyamar sebagai kegiatan usaha.
Kartel dapat berlindung di balik izin.
Mafia dapat berbicara atas nama kepentingan nasional.
Pengkhianatan dapat mengenakan seragam kehormatan.
Karena itu, Bhayangkara masa kini tidak cukup hanya memiliki kekuatan. Ia harus mempunyai kecerdasan membaca zaman, keberanian menembus jaringan, serta keteguhan moral untuk membedakan pengabdian dari kepatuhan buta.
Listyo Sigit memahami bahwa menjaga Asta Cita berarti menjaga setiap rupiah rakyat agar sampai kepada tujuan, setiap program negara agar tidak dibajak, dan setiap pejabat agar mengetahui bahwa kekuasaan selalu berjalan di bawah pengawasan hukum.
Api Hoegeng kemudian menjelma menjadi perisai negara.
Perisai itu tidak menghalangi kritik. Ia melindungi cita-cita rakyat dari para penjarah yang bersembunyi di belakang kewenangan.
Perisai itu tidak menjaga kekuasaan dari kebenaran. Ia menjaga pemerintahan agar tidak disandera oleh orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan.
Perisai itu bernama Bhayangkara.
Dan orang yang memegangnya di garis terdepan bernama Listyo Sigit Prabowo.











