Karena itu, edukasi dan pendampingan menjadi bagian penting agar INKOPPAS Link benar-benar digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
“Harus dimulai dengan pemahaman atas pemanfaatannya di kalangan para anggota, para pedagang pasar rakyat,” pungkasnya.
Peluncuran INKOPPAS Link di Pasar Cibubur memperlihatkan adanya upaya membangun kolaborasi antara koperasi pedagang pasar, pemerintah, BUMD, lembaga pembiayaan, serta mitra teknologi.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena transformasi pasar rakyat tidak hanya berkaitan dengan perubahan cara pembayaran, tetapi juga menyangkut tata kelola koperasi, pencatatan transaksi, akses layanan keuangan, pemasaran, dan hubungan dengan konsumen.
Bagi INKOPPAS, digitalisasi bukan sekadar menghadirkan aplikasi baru. Lebih jauh, langkah tersebut diarahkan untuk membuka akses layanan yang lebih luas bagi anggota koperasi, memperbaiki administrasi, mempercepat transaksi, memperluas pemasaran, sekaligus mendukung penguatan usaha pedagang kecil.
Tantangan berikutnya adalah memastikan platform tersebut benar-benar digunakan secara konsisten oleh pedagang dan koperasi di berbagai daerah.
Jika dibarengi dengan edukasi, pendampingan dan peningkatan literasi digital, INKOPPAS Link diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen bagi koperasi pedagang pasar dalam menghadapi perubahan pola perdagangan.
Transformasi tersebut pada akhirnya bukan untuk menghilangkan wajah pasar rakyat, melainkan membawa kekuatan pasar tradisional—interaksi, kedekatan dan semangat kekeluargaan—ke dalam pola perdagangan yang semakin digital.
Dengan demikian, digitalisasi pasar rakyat diharapkan tidak hanya membuat transaksi lebih praktis, tetapi juga membuka peluang bagi pedagang kecil untuk memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas usaha sehingga dapat naik kelas di tengah perkembangan ekonomi digital.











