Nyimas Aliah Dorong Perempuan dan Lansia Tangguh Hadapi Bencana

Ketua Umum Srikandi TP Sriwijaya Nyimas Aliah SE., S.Sos., M.Ikom., bersama peserta Sekolah Lansia Ratu Sinuhun dalam kegiatan edukasi kesiapsiagaan bencana di Prodia Tower Kramat Raya, Jakarta, Senin (14/9/2026).
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Menghadapi bencana membutuhkan lebih dari sekadar doa. Pengetahuan, kesiapan mental, kemampuan menyelamatkan diri, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi modal penting agar masyarakat tidak mudah panik ketika menghadapi situasi darurat.

Pesan tersebut disampaikan Nyimas Aliah SE., S.Sos., M.Ikom., Ketua Umum Srikandi TP Sriwijaya, saat memberikan penguatan kepada peserta Sekolah Lansia Ratu Sinuhun (SLRS) di Prodia Tower Kramat Raya, Jakarta, Senin (14/9/2026).

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kegiatan bertemakan “Bersama Srikandi TP Sriwijaya Menjadikan Perempuan dan Lansia Tangguh Hadapi Bencana” tersebut digelar untuk meningkatkan kesiapsiagaan, kemandirian, dan keselamatan perempuan serta lansia dalam menghadapi berbagai risiko bencana.

Dalam kesempatan tersebut, Nyimas Aliah menyampaikan apresiasi atas kehadiran para peserta serta kunjungan dari Sekolah Lansia Fatmawati (SLF), termasuk Pak Yus, Mario dan Kak Yong.

“Selamat datang dan apresiasi kepada kakak-kakak Sekolah Lansia Ratu Sinuhun Srikandi TP Sriwijaya,” ujar Nyimas Aliah.

Ia pun menyampaikan penghargaan kepada Ketua Pengda Srikandi TP Sriwijaya Provinsi DKI Jakarta Helpi Nopita, S.Hut., serta Nur Irawati, S.Si., M.Biomed. dari Prodia yang turut memberikan materi kesehatan kepada peserta.

Nyimas Aliah mengingatkan peserta agar tidak berlebihan dalam menyikapi informasi mengenai bencana. Menurutnya, kabar mengenai potensi bencana justru harus menjadi pengingat agar masyarakat meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan.

“Bencana itu pasti, tetapi kesiapsiagaan adalah pilihan. Karena itu kita harus memilih kata siap,” ujar Nyimas Aliah.

Ia menekankan pentingnya memadukan kesiapan mental dan spiritual dengan ikhtiar nyata. Berdoa tetap menjadi bagian penting, namun masyarakat juga harus memahami risiko bencana di lingkungan tempat tinggal serta mengetahui langkah penyelamatan ketika keadaan darurat terjadi.

“Allah memberikan kita akal. Gunakan akal kita untuk memahami tentang bencana, kita berada di mana dan ancaman kepada kita apa,” katanya.

Menurut Nyimas Aliah, salah satu tujuan edukasi kebencanaan bagi lansia adalah membangun kemandirian sehingga mereka mampu mengambil keputusan dan menyelamatkan diri ketika terjadi bencana.

Ia mengingatkan agar kepanikan tidak justru memperburuk keadaan. Saat terjadi gempa atau kondisi darurat lainnya, masyarakat perlu tetap tenang, berdoa, dan mengambil langkah penyelamatan berdasarkan situasi serta informasi yang benar.

“Ketika terjadi gempa kita beristighfar dan jangan berteriak sehingga akan membuat panik yang akan membuat susah berpikir jernih,” tuturnya.

Nyimas Aliah juga mengingatkan bahwa Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik sehingga masyarakat perlu memiliki kesadaran kebencanaan yang kuat. Risiko seperti gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir dan angin kencang perlu dipahami sejak dini.

Dalam kegiatan tersebut, Nyimas Aliah menegaskan bahwa perempuan dan lansia tidak boleh hanya dipandang sebagai kelompok yang membutuhkan perlindungan.

Sebaliknya, keduanya dapat menjadi bagian penting dalam membangun keluarga dan komunitas yang tangguh menghadapi bencana.

Lansia, kata dia, dapat membantu memberikan ketenangan dan arahan kepada anggota keluarga. Perempuan dan lansia juga dapat menjadi penggerak edukasi kebencanaan sekaligus jembatan komunikasi antara masyarakat, RT, RW dan relawan.

Ia juga mendorong para lansia tetap aktif dalam kegiatan sosial. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki lansia dinilai dapat menjadi kekuatan untuk membantu keluarga dan lingkungan.

Nyimas Aliah menjelaskan, kesiapsiagaan lansia dapat dimulai dari langkah sederhana. Salah satunya dengan memahami risiko bencana di sekitar tempat tinggal, mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul, serta menyiapkan tas siaga bencana.

Tas tersebut dapat berisi obat-obatan rutin, dokumen penting, senter, peluit, makanan dan kebutuhan pribadi lainnya.

Selain itu, kondisi kesehatan dan mobilitas lansia juga perlu diperhatikan. Keluarga maupun lingkungan sekitar diharapkan mengetahui kebutuhan lansia sehingga proses evakuasi dapat dilakukan dengan lebih aman.

Jaringan sosial juga dinilai penting agar lansia tidak terisolasi ketika terjadi bencana. Dukungan keluarga, kader, tetangga dan komunitas dapat mempercepat proses pertolongan.

Untuk memperkuat edukasi kebencanaan, Srikandi TP Sriwijaya berencana menghadirkan narasumber dari Masyarakat Peduli Bencana Indonesia (MPBI) dalam kegiatan pelatihan berikutnya.

Nyimas Aliah berharap edukasi tersebut tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diterapkan oleh peserta di keluarga dan lingkungan masing-masing.

“Bencana itu pasti, tapi panik atau tidaknya itu pilihan. Kalau tidak mau panik, kita persiapkan dari sekarang mental dan spiritual,” ujarnya.

Ia menegaskan, masyarakat memang tidak dapat mencegah seluruh bencana alam. Namun, risiko dan dampaknya dapat dikurangi melalui pengetahuan, kesiapsiagaan, latihan serta kepedulian terhadap kelompok rentan.

“Kita enggak bisa cegah bencana, tapi kita bisa siap. Mari mulai dari diri sendiri, keluarga, komunitas,” pungkas Nyimas Aliah, Ketua Umum Srikandi TP Sriwijaya.

Kegiatan Sekolah Lansia Ratu Sinuhun ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun perempuan dan lansia tangguh bencana, sehingga kelompok tersebut tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih siap menghadapi keadaan darurat. | Guffe*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.