JAKARTA, Radarjakarta.id – Polemik pasca perceraian Ruben Onsu dan Sarwendah kembali memanas. Kali ini, sorotan publik tertuju pada isu nafkah anak yang menyeret nama presenter ternama tersebut ke tengah perdebatan panas.
Ruben disebut sudah tidak memberikan nafkah kepada kedua anaknya selama enam bulan terakhir. Tudingan itu langsung memicu beragam reaksi publik dan menempatkan kehidupan pasca perceraian pasangan selebritas tersebut kembali menjadi perhatian luas.
Tak tinggal diam, Ruben akhirnya angkat bicara. Dengan nada penuh kekecewaan, ia mempertanyakan mengapa pengorbanan dan kerja kerasnya selama bertahun-tahun sebagai kepala keluarga seolah terlupakan hanya karena penilaian terhadap beberapa bulan terakhir.
Menurut Ruben, seluruh jerih payah yang selama ini ia lakukan demi keluarga tidak bisa begitu saja dihapus oleh satu narasi yang hanya melihat situasi terkini. Ia merasa kontribusi dan perjuangannya selama bertahun-tahun tidak mendapat penghargaan yang seimbang.
Di tengah polemik yang berkembang, Ruben menegaskan bahwa rasa cintanya kepada anak-anak tidak pernah berubah. Ia mengaku masih terus merindukan buah hatinya dan selalu memikirkan mereka setiap hari.
Namun, keinginannya untuk bertemu anak-anak disebut tidak berjalan mudah. Ruben mengungkapkan bahwa komunikasi dengan mantan istrinya kerap berujung konflik dan justru memperburuk keadaan.
Karena alasan tersebut, ia memilih menggunakan kuasa hukum sebagai perantara dalam berbagai urusan yang berkaitan dengan anak-anak. Menurutnya, langkah itu bukan bentuk menjauh dari tanggung jawab, melainkan upaya agar komunikasi berjalan lebih sehat dan tidak kembali menimbulkan luka bagi kedua belah pihak.
Ruben juga menegaskan bahwa sebagian persoalan sudah memasuki ranah hukum sehingga pembahasan melalui pengacara dianggap sebagai jalur yang paling tepat.
Dalam pernyataan yang tegas, Ruben menekankan satu hal yang menurutnya tidak dapat diperdebatkan oleh siapa pun.
“Saya ini ayahnya, sudah selesai.”
Pernyataan yang paling menyita perhatian publik muncul ketika Ruben menyatakan kesiapannya untuk mengambil alih sepenuhnya tanggung jawab membesarkan anak-anak apabila pihak mantan istrinya merasa tidak lagi sanggup menjalankannya.
Ucapan tersebut langsung memantik perbincangan luas di media sosial karena dianggap sebagai sinyal kuat terkait hak asuh dan tanggung jawab orang tua pasca perceraian.
Di balik konflik yang terus bergulir, Ruben juga mengungkap sisi emosional yang jarang diketahui publik. Ia mengaku memiliki cara tersendiri untuk mengobati kerinduan terhadap anak-anak yang kini jarang ditemuinya.
Presenter tersebut mengaku rutin mendatangi sejumlah panti asuhan hanya untuk merasakan kembali suasana kebersamaan dengan anak-anak. Kehadiran mereka disebut mampu memberikan ketenangan di tengah tekanan yang sedang ia hadapi.
Ruben memilih tidak banyak mengeluh. Baginya, berada di tengah anak-anak panti asuhan menjadi cara sederhana untuk meredakan rasa rindu yang terus membayang setiap hari.
Sementara itu, pihak Sarwendah melalui kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu dan Abraham Simon, memberikan penjelasan berbeda terkait persoalan nafkah anak.
Menurut Chris Sam Siwu, pernyataan mengenai tidak adanya nafkah dari Ruben selama enam bulan terakhir bukanlah bentuk keluhan, melainkan penyampaian fakta yang dialami kliennya.
Pihak Sarwendah menegaskan bahwa hingga saat ini seluruh kebutuhan anak-anak tetap terpenuhi dengan baik. Pendidikan, kesehatan, hingga berbagai aktivitas anak disebut tetap berjalan normal karena dibiayai langsung oleh Sarwendah.
Mereka juga menekankan bahwa Sarwendah masih mampu membiayai kebutuhan kedua anaknya secara mandiri. Namun demikian, tanggung jawab nafkah anak tetap menjadi kewajiban ayah sebagaimana yang telah disepakati sebelumnya dalam perjanjian pasca perceraian.
Kuasa hukum Sarwendah menegaskan bahwa persoalan ini bukan soal kemampuan ekonomi, melainkan komitmen menjalankan kesepakatan yang telah dibuat bersama.
Di tengah saling silang pernyataan dari kedua pihak, satu hal yang pasti, konflik mengenai nafkah anak, komunikasi keluarga, dan pola pengasuhan pasca perceraian masih menjadi babak panjang yang terus menyita perhatian publik.
Publik kini menunggu apakah polemik yang semakin terbuka ini akan menemukan titik damai, atau justru berkembang menjadi konflik hukum yang lebih besar di kemudian hari.***











