Josephine Simanjuntak: Sampah Jakarta Capai Ribuan Ton per Hari, Dorong Warga Pilah dari Rumah  

Anggota DPRD DKI Jakarta, Josephine Simanjuntak saat menyampaikan sosialisasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan regulasi pengelolaan sampah kepada masyarakat. (Foto: Ist)
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Gunungan sampah bukan sekadar persoalan kebersihan kota. Ketika ribuan ton sampah diproduksi setiap hari, kemampuan fasilitas pengolahan dan tempat pemrosesan akhir menjadi semakin penting untuk dijaga. Karena itu, pengurangan sampah dari sumber kini menjadi salah satu kunci menghadapi persoalan persampahan Jakarta.

Anggota DPRD DKI Jakarta, Josephine Simanjuntak mengingatkan masyarakat agar tidak memandang pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab pemerintah semata. Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting dengan membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Pesan tersebut disampaikan Josephine dalam kegiatan Peningkatan Fungsi Pengawasan DPRD terhadap Produk Hukum Daerah tentang Pengelolaan Sampah bersama masyarakat di kawasan Jakarta Timur pada 12-13 September 2026.

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya pelaksanaan regulasi pengelolaan sampah di tingkat masyarakat. Bagi Josephine, keberadaan aturan tidak akan cukup apabila tidak diikuti pengawasan dan perubahan perilaku warga.

“Saya hadir di sini untuk memantau seberapa jauh peraturan daerah yang kami terbitkan tentang pengolahan sampah ini berjalan. Kenapa saya bicara begini? Karena hari ini Jakarta sudah diberi peringatan oleh dua tempat pembuangan sampah kita, yaitu Rorotan dan Bantar Gebang. Kalau tidak dibatasi dan dikelola, itu sangat berbahaya,” ujar Josephine dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).

Josephine menjelaskan, meningkatnya jumlah penduduk, aktivitas ekonomi, serta konsumsi rumah tangga turut memengaruhi volume sampah yang dihasilkan Jakarta setiap hari.

Sampah muncul dari berbagai aktivitas sederhana. Mulai dari sisa makanan, kegiatan memasak, belanja kebutuhan sehari-hari, hingga penggunaan berbagai produk dengan kemasan plastik dan material lainnya.

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika seluruh jenis sampah tersebut bercampur sejak dari rumah.

Sampah organik, plastik, kertas, logam, residu hingga sampah yang membutuhkan penanganan khusus akhirnya masuk dalam satu aliran. Kondisi itu membuat proses pemilahan dan pengolahan di tahap berikutnya menjadi lebih berat.

Data yang disampaikan pemerintah dalam berbagai kesempatan menunjukkan timbulan sampah Jakarta berada pada kisaran ribuan ton setiap hari. Bahkan, Pemprov DKI pada Agustus 2026 menyebut produksi sampah Jakarta telah mencapai lebih dari 9.000 ton per hari, sementara volume yang dikirim ke TPST Bantargebang telah berkurang sekitar 500 ton per hari seiring meningkatnya pemilahan.

Besarnya timbulan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah Jakarta tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah armada pengangkut atau memperluas tempat pembuangan.
Diperlukan perubahan sistem dari hulu hingga hilir.

Josephine menyoroti ketergantungan pengelolaan sampah Jakarta terhadap berbagai fasilitas pengolahan, termasuk TPST Bantargebang di Bekasi dan fasilitas pengolahan di Rorotan, Jakarta Utara.

Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut tetap membutuhkan dukungan dari masyarakat melalui pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber.

“Kalau kita terus membuang semua jenis sampah tanpa memilah, maka beban tempat pengolahan akan semakin berat. Kita harus mulai dari rumah,” ujarnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.