Banjir Bandang Nepal Tewaskan 160 Orang, Ratusan Hilang

banner 468x60

NEPAL, Radarjakarta.id — Bencana banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan China pada Rabu, 26 Agustus 2026. Musibah yang terjadi di wilayah Himalaya itu menewaskan sedikitnya 160 orang dan menyebabkan ratusan warga, pekerja serta wisatawan hingga kini masih dinyatakan hilang.

Data terbaru menyebutkan 157 korban meninggal berada di wilayah Nepal, sementara tiga korban lainnya dilaporkan tewas di wilayah Tibet, China. Di sisi Nepal, sedikitnya 403 orang masih belum ditemukan, termasuk ratusan warga negara asing. Di Tibet, 265 orang juga dilaporkan hilang.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Banjir Menerjang Perbatasan Nepal-China

Banjir bandang menghantam sejumlah kawasan di sekitar Sungai Bhote Koshi, termasuk wilayah Rasuwa, Nuwakot dan Dhading. Derasnya aliran air bercampur lumpur dan material longsoran menyapu permukiman, jalan, jembatan, fasilitas pembangkit listrik serta berbagai bangunan.

Di sisi China, material longsor juga menghantam kawasan Gyirong di Tibet dan mengganggu akses jalan, komunikasi serta infrastruktur di sekitar perbatasan Nepal-China.

Diduga Dipicu Longsoran dan Runtuhan Gletser

Banjir tidak semata-mata disebabkan hujan deras. Analisis awal lembaga kebencanaan Nepal dan sejumlah pakar menyebut longsoran batu dan es dari kawasan gletser diduga memicu luapan mendadak sungai.

Material longsoran diduga membendung aliran sungai untuk sementara, kemudian menghasilkan gelombang air dan lumpur dalam jumlah besar yang bergerak deras ke wilayah lebih rendah.

Reuters melaporkan bencana tersebut kemungkinan berkaitan dengan longsoran setelah aktivitas gempa di kawasan perbatasan Nepal-Tibet. Sementara sejumlah ahli menilai runtuhan dari gletser menjadi pemicu utama banjir bandang.

Ratusan Wisatawan Masih Hilang

Sektor pariwisata menjadi salah satu yang terdampak berat. Nepal Tourism Board sebelumnya mencatat 384 wisatawan dilaporkan hilang, terdiri dari 291 warga negara asing dan 93 warga Nepal.

Dalam pembaruan berikutnya, jumlah keseluruhan orang yang belum ditemukan di Nepal mencapai sekitar 403 orang. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada dan Malaysia.

Banyak wisatawan berada di kawasan tersebut untuk perjalanan wisata maupun ziarah menuju wilayah Himalaya. Kondisi geografis yang terjal serta rusaknya jalan dan jembatan membuat proses pencarian semakin sulit.

Operasi Penyelamatan Terus Dilakukan

Pemerintah Nepal mengerahkan personel keamanan, tim penyelamat dan helikopter untuk mencari korban serta mengevakuasi warga yang masih terjebak. Namun, medan pegunungan, aliran sungai yang masih tinggi dan kerusakan infrastruktur menjadi hambatan besar.

Sejumlah negara juga mulai memantau kondisi warga negaranya yang berada di kawasan terdampak. Pemerintah Nepal telah meminta bantuan India dan China untuk mendukung operasi penyelamatan dan penanganan bencana.

Bencana tersebut juga berdampak pada sistem kelistrikan Nepal. Sejumlah fasilitas pembangkit dan jaringan transmisi mengalami kerusakan akibat terjangan air dan material longsoran.

Fakta Banjir Bandang Nepal

Apa yang terjadi?

Banjir bandang dan longsor menerjang kawasan Himalaya di perbatasan Nepal-China.

Kapan terjadi?

Bencana terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Di mana lokasi terdampak?

Sejumlah wilayah Nepal, terutama Rasuwa, Nuwakot dan Dhading, serta kawasan Gyirong di Tibet, China.

Berapa korban?

Sedikitnya 160 orang meninggal berdasarkan pembaruan terbaru, dengan ratusan orang masih hilang.

Siapa yang terdampak?

Warga lokal, pekerja, aparat serta ratusan wisatawan, termasuk warga negara asing.

Apa penyebabnya?

Analisis awal mengarah pada longsoran material es dan batu dari kawasan gletser yang memicu luapan mendadak sungai.

Hingga kini, proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung. Otoritas Nepal dan China terus memperbarui data korban karena banyak wilayah terdampak belum sepenuhnya dapat dijangkau tim penyelamat.

Bencana ini menjadi salah satu tragedi banjir paling mematikan di kawasan Himalaya tahun 2026 dan kembali menyoroti tingginya risiko bencana hidrometeorologi serta longsor di wilayah pegunungan tersebut.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.