Kasus Korupsi FIFA Memanas, Ayah dan Anak Akui Bayar Suap Puluhan Juta Dolar

banner 468x60

NEW YORK, Radarjakarta.id — Skandal korupsi sepak bola yang mengguncang dunia kembali memasuki babak penting. Hugo Jinkis dan putranya, Mariano Jinkis, dua pengusaha Argentina pemilik perusahaan pemasaran olahraga Full Play Group, telah mencapai kesepakatan untuk mengakui pembayaran suap dalam perkara korupsi FIFA yang telah bergulir selama lebih dari satu dekade.

Perkembangan terbaru itu menjadi titik balik dalam perkara yang bermula dari penyidikan besar-besaran otoritas Amerika Serikat terhadap dugaan korupsi di tubuh sepak bola internasional. Menurut laporan terbaru, Jinkis dan putranya sepakat mengakui telah membayar puluhan juta dolar dalam bentuk suap komersial kepada pejabat sepak bola untuk memperoleh hak media dan pemasaran berbagai kompetisi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Hugo Jinkis, 81 tahun, dan Mariano Jinkis, 51 tahun, sebelumnya menjadi dua tokoh yang lama berada di luar jangkauan aparat Amerika Serikat. Keduanya didakwa sejak 2015 dalam perkara yang mencakup konspirasi pemerasan, penipuan melalui komunikasi elektronik, serta pencucian uang. Argentina sebelumnya menolak permintaan ekstradisi mereka sehingga proses terhadap keduanya tertahan selama bertahun-tahun.

Namun, situasi berubah pada Mei 2026 ketika ayah dan anak tersebut secara sukarela datang ke New York dari Argentina bersama istri masing-masing. Mereka kemudian melakukan pembicaraan dengan jaksa federal di Brooklyn mengenai kemungkinan penyelesaian perkara melalui kesepakatan pengakuan bersalah. Langkah tersebut mengakhiri kebuntuan hukum yang berlangsung hampir 11 tahun.

Diduga Bayar Suap Demi Hak Siar

Kasus tersebut berpusat pada Full Play Group, perusahaan pemasaran olahraga yang dikendalikan keluarga Jinkis. Jaksa Amerika Serikat menuduh perusahaan itu menggunakan pembayaran suap untuk mendapatkan hak komersial, media, dan pemasaran sejumlah turnamen sepak bola Amerika Selatan.

Dalam perkara sebelumnya, dokumen pengadilan menyebut Full Play terlibat dalam skema pembayaran suap kepada pejabat sepak bola terkait hak atas Copa América, kualifikasi Piala Dunia, pertandingan persahabatan internasional, serta kompetisi klub seperti Copa Libertadores.

Catatan perkara juga menunjukkan bahwa Full Play dan perusahaan terkait menggunakan sejumlah rekening serta struktur perusahaan untuk menjalankan transaksi yang disebut jaksa berkaitan dengan pembayaran suap. Dalam salah satu uraian perkara, jaksa menyebut adanya pembayaran kepada sejumlah pejabat asosiasi sepak bola Amerika Selatan dalam rangka memperoleh hak komersial turnamen.

Mengapa Pengakuan Ini Penting?

Pengakuan Jinkis berpotensi menjadi perkembangan signifikan bagi penegakan hukum kasus FIFA karena Full Play sebelumnya telah menjadi salah satu perusahaan yang paling lama terseret dalam perkara tersebut.

Full Play pernah dinyatakan bersalah bersama mantan eksekutif Fox Hernán López dalam persidangan federal di Brooklyn pada 2023. Namun, putusan tersebut kemudian dibatalkan oleh hakim berdasarkan perkembangan hukum mengenai penerapan undang-undang penipuan elektronik terhadap tindakan di luar negeri. Perkara itu kembali berkembang setelah putusan tingkat banding berikutnya.

Kedatangan Jinkis ke Amerika Serikat dan kesediaan mereka untuk mengakui pembayaran suap kini berpotensi memberikan babak baru bagi kasus yang selama ini menjadi simbol persoalan korupsi dalam tata kelola sepak bola internasional.

Skandal yang Mengubah Sepak Bola Dunia

Kasus FIFA pertama kali meledak pada 2015 ketika otoritas Amerika Serikat mengungkap dakwaan terhadap sejumlah pejabat sepak bola dan eksekutif perusahaan pemasaran olahraga. Penyelidikan tersebut mengungkap dugaan praktik suap dan pencucian uang yang berkaitan dengan perebutan hak siar serta hak pemasaran kompetisi sepak bola internasional.

Departemen Kehakiman AS sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan pemasaran olahraga menggunakan pembayaran suap dan kickback untuk memperoleh hak siar serta hak pemasaran berbagai turnamen. Full Play yang dimiliki Hugo dan Mariano Jinkis termasuk perusahaan yang disebut dalam perkara tersebut.

Kini, lebih dari 11 tahun setelah kasus itu mencuat, pengakuan ayah dan anak pemilik Full Play membuka kembali salah satu bab terpenting dalam sejarah FIFA Gate.

Perkara tersebut tidak hanya menyangkut uang dan hak siar, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kepentingan bisnis bernilai besar dapat bersinggungan dengan kekuasaan dalam industri sepak bola dunia. Proses hukum selanjutnya akan menentukan konsekuensi yang harus dihadapi Jinkis setelah pengakuan tersebut.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.