Pemakaman Ali Khamenei: Konsolidasi Teologi Perlawanan

Muhammad Reza. (Foto: Ist)
banner 468x60

Oleh: Muhammad Reza

Dunia kembali menoleh ke Teheran ketika jutaan orang memadati jalan-jalan dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Jalan-jalan berubah menjadi lautan manusia. Mereka datang dari berbagai penjuru Iran, disertai delegasi negara, tokoh agama, aktivis, hingga simpatisan dari berbagai belahan dunia.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Lebih tepat menyebutnya sebagai badai manusia. Puluhan juta orang bergerak bukan semata karena instruksi negara, melainkan oleh tarikan gravitasi moral yang hidup dalam kesadaran kolektif.

Semua melebur dalam hamparan hitam pekat duka. Namun duka itu tidak melahirkan kepasrahan. Ia berubah menjadi bara. Ada tangan-tangan yang mengepal. Ada pekikan yang bergemuruh. Ada amarah yang menemukan bahasanya.

Di tengah lautan manusia, pekikan “Hancur Amerika! Hancur Israel!” terus menggema, bersahut-sahutan seperti gelombang yang tak habis dipukul ombak.

Pemakaman itu menjelma menjadi panggung konsolidasi perlawanan. Sebuah manifesto politik yang dipertontonkan kepada dunia. Pesannya sederhana, tetapi mengguncang.

Namun ada satu pekikan lain yang tak kalah menggema.

“Ya Husain!”

Jutaan warga Iran mengumandangkannya sepanjang prosesi mengantar jenazah Ali Khamenei. Bagi mereka, itu bukan sekadar seruan religius. Ia adalah yel-yel perlawanan. Jika Indonesia memiliki pekikan “Merdeka!”, Iran memiliki “Ya Husain!”. Nama yang hidup sebagai bahasa keberanian, pengorbanan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. (Mengacu pada peristiwa Karbala: 680 M)

Di situlah napas Karbala membara, sebagai kesadaran kolektif yang membentuk cara sebuah bangsa memandang perjuangan, penderitaan, bahkan kematian.

Karena itu, jangan heran apabila embargo ekonomi, tekanan politik, pembunuhan para ilmuwan, gugurnya para jenderal, hingga wafatnya pemimpin tertinggi tidak otomatis mematahkan Iran. Semua itu memang melukai mereka, tetapi tidak meruntuhkan semangatnya.

Bagi bangsa yang bernapas dalam kesadaran Karbala, gugur di medan laga adalah transformasi eksistensial. Ia bukan akhir perjuangan, melainkan penyempurnaan kesaksian moral. Dari sinilah lahir kesadaran bahwa mati demi kebenaran bukanlah kekalahan, melainkan kemenangan moral dan spiritual.

Di sinilah pemakaman Ali Khamenei menemukan maknanya yang lebih besar. Ia bukan sekadar prosesi mengantar seorang pemimpin menuju liang lahat. Ia adalah pertunjukan tentang bagaimana sebuah bangsa mengubah duka menjadi energi, kematian menjadi konsolidasi, dan kehilangan menjadi sumber kekuatan.

Selama ini, kekuatan bangsa sering diukur dari besarnya ekonomi, kecanggihan teknologi, atau superioritas militernya. Iran memperlihatkan dimensi lain yang kerap luput dari perhatian, yaitu kemampuan memberi makna terhadap penderitaan.

Di sinilah teologi tidak lagi berhenti sebagai urusan ibadah atau ritual pribadi. Ia menjelma menjadi energi sosial dan bahkan membentuk cara sebuah negara membaca geopolitik.
Karbala tidak sekadar dikenang sebagai sejarah, melainkan dihidupkan sebagai lensa untuk memahami dunia hari ini.

Tentu Indonesia tidak harus meniru sistem politik Iran, apalagi mengimpor konflik-konfliknya. Sejarah, kebudayaan, dan konstitusi kita menempuh jalan yang berbeda. Namun ada satu pelajaran yang layak direnungkan. Nilai yang dipegang teguh oleh sebuah bangsa ternyata mampu menjadi perekat yang mempersatukan rakyat ketika menghadapi cobaan.

Bangsa yang hanya dipersatukan oleh kemakmuran akan mudah retak ketika krisis datang. Sebaliknya, bangsa yang dipersatukan oleh cita-cita, keyakinan, dan keberanian moral memiliki daya tahan yang jauh lebih panjang.

Mungkin itulah pesan paling penting dari lautan manusia yang mengantar Ali Khamenei. Seorang pemimpin memang dapat wafat. Namun selama gagasan yang diperjuangkannya masih hidup dalam kesadaran kolektif rakyatnya, yang dikuburkan hanyalah jasadnya, bukan perlawanannya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.