Ishana Adriana (Pemerhati Pendidikan Islam): Waspadai Arus Kapitalime Merusak Pendidikan Islam

banner 468x60

Oleh: Ishana Adriana, Kamis  25 Juni 2026. (foto Istimewa)

 

Bacaan Lainnya
banner 300x250

JAKARTA – Fenomena komersialisasi pendidikan Islam menjadi perhatian pemerhati Pendidikan Islam, Ishana Adriana yang menilai lembaga pendidikan Islam dinilai menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara profesionalisme pengelolaan dan misi utama pendidikan sebagai sarana dakwah serta pembentukan karakter generasi muda.

Menurut Pemerhati Pendidikan Islam, Ishana Adriana, pendidikan Islam kapitalis merujuk pada kondisi ketika prinsip-prinsip ekonomi pasar, seperti komersialisasi, kompetisi, dan orientasi keuntungan, mulai mendominasi pengelolaan lembaga pendidikan Islam.

“Sekolah hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan nilai-nilai keislaman, tetapi juga sebagai institusi yang dituntut menghasilkan keuntungan finansial,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (25/6).

Dikatakan Ishana, terdapat beberapa indikator yang kerap dikaitkan dengan fenomena tersebut antara lain tingginya biaya pendidikan, persaingan fasilitas antarlembaga, penguatan strategi pemasaran, serta orientasi pendidikan yang lebih menekankan kesiapan kerja dibanding pembentukan karakter dan akhlak peserta didik.

Kendati demikian, lanjut Ishana modernisasi pendidikan dinilai tetap diperlukan guna meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Profesionalisme pengelolaan, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan pendidikan masa kini.

“Kami berharap para pengelola yayasan pendidikan Islam diharapkan dapat terus menjaga nilai-nilai dasar pendidikan Islam dengan menempatkan kualitas pendidikan dan pembentukan karakter sebagai prioritas utama. Keberhasilan lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah peserta didik atau kemegahan fasilitas, tetapi juga dari kualitas lulusan yang dihasilkan,” ujarnya.

Ishana mengimbau para orang tua untuk lebih cermat dalam memilih sekolah bagi putra-putrinya. Mulailah jeli dengan rekam jejak sekolah, akreditasi, kualitas tenaga pendidik, prestasi, serta kesesuaian biaya pendidikan dengan kemampuan keluarga.

Ishana menilai bahwa biaya pendidikan yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pembelajaran. Karena itu, orang tua perlu melakukan penelusuran secara menyeluruh mengenai sistem pendidikan, transparansi biaya, program sekolah, hingga budaya belajar yang diterapkan sebelum memutuskan mendaftarkan anak.

“Pendidikan Islam diharapkan tetap mampu menjalankan perannya sebagai sarana mencetak generasi yang cerdas, mandiri, berakhlakul karimah, serta memiliki kepedulian sosial,” pungkasnya.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.