TEHERAN, Radarjakarta.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah titik strategis di selatan Iran, Rabu (8/7). Ledakan dilaporkan mengguncang Pelabuhan Sirik, Pulau Qeshm, serta kawasan Bandar Abbas yang berada di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia.
Pemerintah Amerika Serikat melalui Komando Pusat (CENTCOM) menyatakan operasi militer tersebut merupakan respons atas serangan terhadap tiga kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz. Washington menyebut sasaran serangan adalah fasilitas militer, sistem rudal, drone, dan infrastruktur pengawasan Iran yang diduga digunakan untuk mengancam keamanan pelayaran internasional.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya belasan ledakan terdengar di Sirik, Pulau Qeshm, dan Bandar Abbas. Otoritas Teheran mengecam tindakan Amerika Serikat sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan damai yang sebelumnya disepakati kedua pihak. Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Eskalasi terbaru memicu kekhawatiran internasional karena Selat Hormuz merupakan jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan keamanan di kawasan ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi global, mendorong kenaikan harga minyak, serta meningkatkan risiko terhadap aktivitas pelayaran internasional.
Sejumlah negara di kawasan Teluk dan komunitas internasional menyerukan penahanan diri agar konflik tidak berkembang menjadi perang terbuka yang lebih luas. Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar Selat Hormuz masih berada dalam pengawasan ketat, sementara perkembangan terbaru terus dipantau oleh media lokal, nasional, dan internasional.











