Penyandang Cerebral Palsy Tempuh Pendidikan S3, Buktikan Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Mimpi

Perayaan World Cerebral Palsy Day 2026 di Atrium Mall Teras Kota, BSD, Tangerang Selatan, Minggu (25/10/2026).
banner 468x60

TANGERANG SELATAN, Radarjakarta.id – Keterbatasan fisik tidak seharusnya menjadi batas bagi seseorang untuk meraih pendidikan tinggi dan mewujudkan cita-cita. Pesan tersebut disampaikan Fira Fitri Fitria, S.E., MKP, seorang penyandang Cerebral Palsy (CP) yang kini tengah menempuh pendidikan doktoral atau S3.

Kisah Fira menjadi salah satu sorotan dalam perayaan World Cerebral Palsy Day 2026 di Atrium Mall Teras Kota, BSD, Tangerang Selatan, Minggu (25/10/2026). Melalui tema global “Unique and United”, kegiatan ini mengajak masyarakat membangun pemahaman bahwa penyandang Cerebral Palsy memiliki potensi dan hak yang sama untuk belajar, berkembang, serta berkontribusi di tengah masyarakat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Fira menuturkan, penyandang CP masih kerap menghadapi keraguan dari lingkungan sekitar akibat kondisi fisik yang terlihat. Padahal, keterbatasan gerak tidak dapat dijadikan tolok ukur untuk menilai kemampuan intelektual maupun potensi seseorang.

“Keterbatasan fisik yang saya miliki sering kali membuat orang meragukan kapasitas intelektual saya. Tapi Cerebral Palsy hanya membatasi gerak tubuh saya, bukan mimpi dan otak saya,” ujar Fira.

Ia berharap pengalamannya dapat membuka perspektif masyarakat agar tidak mudah menilai kemampuan seseorang berdasarkan kondisi fisik. Menurutnya, kesempatan yang setara untuk mengakses pendidikan dan berkarya merupakan hal penting bagi penyandang disabilitas.

“Anak-anak CP hanya butuh kesempatan yang setara untuk belajar dan berkarya. Jangan pernah mengukur kesuksesan kami dengan standar orang lain,” tambahnya.

Menghapus Stigma, Memperluas Kesempatan

Perayaan World Cerebral Palsy Day 2026 tidak hanya menghadirkan kisah inspiratif, tetapi juga menjadi ruang edukasi mengenai kondisi Cerebral Palsy dan tantangan yang dihadapi penyandangnya beserta keluarga.

Cerebral Palsy merupakan kondisi yang memengaruhi gerakan, postur, dan koordinasi tubuh akibat gangguan pada perkembangan otak. Dampaknya berbeda pada setiap individu, bergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing.

Kurangnya pemahaman mengenai CP dapat memunculkan stigma bahwa anak dengan kondisi tersebut sulit berkembang atau tidak memiliki masa depan. Padahal, dukungan medis, pendidikan yang sesuai, lingkungan sosial yang menerima, serta aksesibilitas dapat membantu mereka mengembangkan potensi secara optimal.

Acara yang berlangsung di Tangerang Selatan ini dibuka oleh Fatma Saifullah Yusuf, Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Sosial RI. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa penyandang Cerebral Palsy membutuhkan ruang dan aksesibilitas agar dapat hidup lebih mandiri, bukan sekadar dikasihani.

“Anak-anak penyandang Cerebral Palsy bukan sekadar butuh dikasihani, tapi butuh ruang dan aksesibilitas agar mereka bisa mandiri,” kata Fatma.

Ia menjelaskan, Kementerian Sosial mendorong penanganan melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), dengan pendekatan yang melibatkan keluarga dan komunitas. Dukungan fasilitas, termasuk Sekolah Ramah Cerebral Palsy di Sentra Terpadu Inten Suweno, Bogor, juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses bagi anak penyandang CP.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.