DBD di Jakarta Barat Capai 1.808 Kasus, Cengkareng Tertinggi

banner 468x60

JAKARTA BARAT, Radarjakarta.id – Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Barat mencatat 1.808 kasus demam berdarah dengue (DBD) selama 1 Januari hingga 15 Oktober 2026. Kecamatan Cengkareng menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 655 kasus. Data tersebut disampaikan melalui informasi resmi Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat pada Jumat (23/10/2026).

Kepala Sudinkes Jakarta Barat, Sahruna, menyebut jumlah kasus tahun ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Berdasarkan data yang disampaikan kepada ANTARA, Jakarta Barat mencatat 2.548 kasus hingga pertengahan Oktober tahun lalu. Dengan demikian, jumlah kasus pada 2026 turun sekitar 29 persen. Meski begitu, penurunan tersebut tidak berarti risiko penularan telah berakhir.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Berdasarkan sebaran wilayah hingga 15 Oktober 2026, Cengkareng mencatat 655 kasus, disusul Kalideres 400 kasus, Kebon Jeruk 191 kasus, Kembangan 129 kasus, Palmerah 128 kasus, Tambora 117 kasus, Grogol Petamburan 112 kasus, dan Tamansari 74 kasus. Angka ini menunjukkan perlunya perhatian khusus di wilayah dengan jumlah kasus tinggi, tanpa mengabaikan pencegahan di kecamatan lainnya.

Sahruna menjelaskan, seluruh puskesmas di Jakarta Barat terus memantau perkembangan kasus dan potensi penularan. Petugas juga melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang ditemukan, memantau jentik nyamuk, serta memperkuat Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus. Ia mengajak warga dan seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat aktif dalam upaya tersebut.

Di Kecamatan Cengkareng, Camat Suhardin menyatakan pihaknya memperkuat pencegahan melalui kerja bakti, pemeriksaan jentik, serta koordinasi dengan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Program pengendalian nyamuk ber-Wolbachia juga menjadi salah satu upaya yang dikembangkan, terutama di kawasan padat penduduk seperti Kelurahan Kapuk. Pelaksanaannya tetap membutuhkan pemantauan dan keterlibatan masyarakat.

Tingginya kasus DBD menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan petugas kesehatan. Warga perlu rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air, serta melakukan langkah tambahan untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk. Pemeriksaan jentik secara berkala juga penting untuk memutus rantai penularan.

Pemerintah dan masyarakat perlu menjaga konsistensi pencegahan meskipun jumlah kasus menurun dibandingkan tahun lalu. Warga yang mengalami demam tinggi mendadak atau tanda bahaya seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, maupun tubuh sangat lemas perlu segera mencari pertolongan medis. Pemantauan kasus, keterbukaan data, dan tindak lanjut di wilayah berisiko menjadi bagian penting untuk menekan penyebaran DBD di Jakarta Barat.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.