PENANG, Radarjakarta.id – Perkembangan teknologi medis membuka peluang baru dalam penanganan gangguan irama jantung atau aritmia. Salah satu teknologi yang digunakan di KPJ Penang Specialist Hospital, Malaysia, adalah Pulsed Field Ablation (PFA), metode ablasi jantung yang dapat mempersingkat durasi prosedur pada pasien dengan kondisi tertentu.
Teknologi ini menjadi salah satu layanan yang diperkenalkan KPJ Penang kepada masyarakat Indonesia, seiring meningkatnya kebutuhan terhadap layanan kesehatan jantung yang didukung tenaga medis spesialis dan peralatan modern.
Muhamad Shahir, Health Tourism Executive KPJ Penang menjelaskan, bahwa rumah sakit tersebut memiliki layanan unggulan di bidang kardiologi dan ortopedi. Kedua bidang ini menjadi salah satu alasan pasien dari Indonesia datang untuk memperoleh pemeriksaan maupun perawatan medis.
“Selain itu, KPJ Penang juga menyediakan berbagai layanan spesialis lainnya, termasuk gastroenterologi, obstetri dan ginekologi, nefrologi, serta neurologi,” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (17/10).
KPJ atau Kumpulan Perobatan Johor merupakan jaringan layanan kesehatan di Malaysia yang memiliki sekitar 29 rumah sakit di berbagai wilayah, mulai dari Perlis, Kedah, Penang, Perak, Selangor, Kuala Lumpur, Johor, hingga Sabah dan Sarawak.
Setiap rumah sakit dalam jaringan tersebut memiliki layanan dan keunggulan masing-masing. Adapun KPJ Penang menaruh perhatian khusus pada pengembangan layanan jantung, termasuk penanganan gangguan irama jantung.
Teknologi PFA Pangkas Durasi Prosedur
Salah satu layanan yang menjadi perhatian adalah penanganan gangguan irama jantung melalui prosedur ablasi menggunakan teknologi Pulsed Field Ablation (PFA).
Dr. Mohanaraj Jayakumar, Consultant Cardiologist and Electrophysiologist KPJ Penang, menjelaskan bahwa gangguan irama jantung tertentu, seperti fibrilasi atrium, dapat menyebabkan detak jantung tidak teratur. Apabila berlangsung terus-menerus dan tidak ditangani secara tepat, kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi jantung.
Pada prosedur ablasi, dokter memasukkan kateter melalui pembuluh darah, umumnya dari area pangkal paha, menuju jantung untuk menemukan area yang memicu sinyal listrik abnormal.
Teknologi PFA menggunakan energi medan listrik berdenyut untuk menargetkan jaringan tertentu yang menjadi sumber gangguan irama jantung.
Menurut Dr. Mohanaraj, penggunaan teknologi tersebut memungkinkan prosedur yang sebelumnya dapat berlangsung sekitar empat hingga enam jam menjadi kurang lebih dua jam pada kasus yang sesuai.
“Dulu prosedurnya bisa memakan waktu empat sampai enam jam. Sekarang, dengan teknologi PFA, pada kasus tertentu bisa diselesaikan sekitar dua jam,” jelas Dr. Mohanaraj.
Durasi tindakan dan pemulihan tetap bergantung pada kondisi pasien, jenis gangguan irama jantung, serta pertimbangan medis masing-masing.
Dr. Mohanaraj juga menceritakan pengalamannya menangani pasien asal Bandung yang sebelumnya mengalami gangguan irama jantung. Setelah menjalani tindakan di KPJ Penang, pasien tersebut dilaporkan menunjukkan perkembangan kondisi fisik yang positif.
Menurut penuturannya, keluarga pasien menyampaikan bahwa pasien mulai dapat berjalan lebih kuat dan merasa lebih bertenaga setelah menjalani perawatan.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa penanganan yang tepat dapat membantu memperbaiki kondisi pasien. Meski demikian, hasil tindakan dapat berbeda pada setiap individu.
Pasien Indonesia Mendapatkan Layanan Medis dan Pendampingan
Muhamad Shahir menjelaskan bahwa KPJ Penang juga melayani pasien dari Indonesia yang membutuhkan pemeriksaan maupun perawatan jantung.
“Saat ini pasien Indonesia mencakup sekitar 30 persen dari keseluruhan pasien yang datang untuk mendapatkan layanan medis. Data tersebut mencakup berbagai jenis perawatan, bukan khusus pasien jantung,” jelasnya.
Beberapa pasien datang untuk menjalani tindakan pada jantung, termasuk prosedur bypass maupun penanganan gangguan irama jantung sesuai indikasi medis.
Dari sisi layanan pasien internasional, KPJ Penang menawarkan fasilitas antar-jemput dari bandara ke rumah sakit atau hotel. Rumah sakit juga menyampaikan adanya fasilitas akomodasi hotel gratis selama satu malam bagi pasien sesuai ketentuan program yang berlaku.
Dengan waktu perjalanan sekitar 30 menit dari Bandara Penang menuju rumah sakit, fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu pasien Indonesia yang membutuhkan akses layanan kesehatan di Malaysia.
KPJ Penang turut menyediakan tenaga medis dengan kemampuan komunikasi dalam bahasa Indonesia dan Melayu, sehingga pasien dapat lebih mudah menyampaikan keluhan serta memahami penjelasan mengenai pemeriksaan dan tindakan medis.
Selain layanan kardiologi, rumah sakit ini mengembangkan fasilitas ortopedi, termasuk pemeriksaan kepadatan tulang menggunakan DEXA serta peningkatan sarana fisioterapi.
Gangguan Jantung Bisa Menyerang Usia Muda
Dr. Mohanaraj mengingatkan bahwa gangguan jantung tidak hanya dialami kelompok lanjut usia. Pasien berusia 20-an hingga 30-an tahun juga dapat mengalami gangguan irama jantung maupun masalah pada pembuluh darah koroner.
Penyebabnya beragam, mulai dari faktor genetik hingga faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi jantung berdebar tidak biasa, detak jantung tidak teratur, pingsan, sesak napas, serta keringat dingin yang disertai nyeri atau rasa tidak nyaman di dada.
Dokter mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh keluhan tersebut, terlebih apabila gejala muncul berulang atau semakin berat.
Nyeri dada yang menetap, sesak napas berat, pingsan, atau keringat dingin yang disertai rasa tidak nyaman di dada perlu segera mendapatkan pertolongan medis darurat.
Ia juga menekankan bahwa tidak semua gangguan jantung menunjukkan gejala yang sama. Karena itu, pemeriksaan dan penentuan diagnosis perlu dilakukan berdasarkan kondisi klinis pasien.
Merokok dan Diabetes Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Mohanaraj turut menyoroti sejumlah faktor risiko penyakit jantung, terutama kebiasaan merokok dan diabetes.
Keduanya dapat meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah koroner yang berperan memasok darah ke otot jantung.
Pola makan yang kurang sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta stres yang tidak dikelola dengan baik juga perlu menjadi perhatian.
Ia menyarankan masyarakat membiasakan konsumsi makanan bergizi seimbang dan membatasi makanan yang tinggi garam, gula, serta lemak jenuh. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang digoreng juga sebaiknya dikendalikan sebagai bagian dari pola makan sehat.
Untuk pemeriksaan, kebutuhan setiap orang berbeda-beda berdasarkan usia, riwayat kesehatan, gejala, dan faktor risikonya. Elektrokardiogram (EKG) dapat digunakan untuk merekam aktivitas listrik jantung, tetapi pemeriksaan ini tidak selalu cukup untuk menyingkirkan seluruh jenis penyakit jantung.
Karena itu, masyarakat sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis untuk menentukan pemeriksaan yang sesuai, terutama jika memiliki diabetes, kebiasaan merokok, riwayat keluarga dengan penyakit jantung, atau keluhan yang mencurigakan.
Olahraga Teratur dan Istirahat Cukup
Untuk menjaga kesehatan jantung, Dr. Mohanaraj menganjurkan aktivitas fisik secara teratur, seperti berjalan cepat, berenang, bersepeda, maupun menggunakan treadmill.
Bagi orang dewasa, pedoman kesehatan umumnya menganjurkan aktivitas aerobik intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu, atau aktivitas intensitas tinggi selama 75 menit per minggu, sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan.
Masyarakat yang belum terbiasa berolahraga dapat memulai dari durasi yang lebih singkat, kemudian meningkatkannya secara bertahap. Lansia maupun orang yang memiliki penyakit tertentu perlu menyesuaikan jenis dan intensitas olahraga berdasarkan kondisi fisik serta saran tenaga medis.
Selain aktivitas fisik, menjaga kualitas tidur, mengelola stres, menghindari rokok, dan mengendalikan kadar gula darah juga merupakan bagian penting dari upaya mengurangi risiko penyakit jantung.
Dr. Mohanaraj menegaskan bahwa penanganan dini dapat memberikan peluang lebih baik bagi pasien, meskipun hasilnya tetap bergantung pada jenis penyakit dan tingkat keparahannya.
Melalui pengembangan layanan kardiologi dan penggunaan teknologi medis seperti PFA, KPJ Penang berharap dapat memberikan pilihan perawatan bagi pasien yang membutuhkan penanganan gangguan jantung, termasuk masyarakat Indonesia yang mencari layanan kesehatan di Malaysia.
Pada akhirnya, teknologi medis menjadi salah satu bagian dari upaya penanganan penyakit jantung. Kesadaran mengenali gejala, pemeriksaan sesuai kebutuhan, dan penerapan pola hidup sehat tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.










