Penyandang Cerebral Palsy Tempuh Pendidikan S3, Buktikan Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Mimpi

Perayaan World Cerebral Palsy Day 2026 di Atrium Mall Teras Kota, BSD, Tangerang Selatan, Minggu (25/10/2026).
banner 468x60

Penanganan Medis dan Dukungan Keluarga

Selain mengangkat kesetaraan kesempatan, kegiatan tersebut menghadirkan edukasi tentang penanganan medis dan pentingnya menjaga kesehatan mental orang tua.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti, Sp.A, subspesialis neurologi anak, menjelaskan bahwa anak dengan Cerebral Palsy memiliki kebutuhan medis yang berbeda-beda. Sebagian di antaranya dapat mengalami kondisi penyerta, termasuk kejang atau epilepsi, yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan sesuai kondisi masing-masing.

Ia mengingatkan orang tua agar melakukan konsultasi medis secara rutin serta memberikan stimulasi tumbuh kembang secara konsisten.

Sementara itu, Gloria Martha Uli Siagian, M.Psi., Psikolog, menyoroti pentingnya kesehatan mental orang tua dan pengasuh dalam mendampingi anak dengan kebutuhan khusus.

Menurut Gloria, proses pengasuhan yang panjang dapat menimbulkan kelelahan fisik dan emosional. Karena itu, orang tua perlu memiliki dukungan yang memadai dan tidak ragu meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.

Kesejahteraan pengasuh menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak.

Mendorong Lingkungan Ramah Cerebral Palsy

Melalui perayaan bertema “Unique and United”, komunitas Rumah Cerebral Palsy turut menggaungkan gerakan Ramah Cerebral Palsy (RCP). Gerakan ini mendorong sekolah, fasilitas kesehatan, ruang publik, dan lingkungan sosial agar lebih adaptif terhadap kebutuhan penyandang CP.

Pendekatan tersebut menekankan bahwa inklusi bukan hanya tentang menerima keberadaan penyandang disabilitas, tetapi juga memastikan mereka memiliki akses dan kesempatan untuk berpartisipasi secara setara.

Rangkaian kegiatan yang meliputi talkshow, penampilan orang tua, dan perlombaan interaktif antara orang tua dan anak menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman serta kebersamaan.

Kisah Fira dan berbagai upaya edukasi yang dihadirkan dalam perayaan tersebut mengingatkan bahwa masa depan anak dengan Cerebral Palsy tidak semestinya ditentukan oleh stigma. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan kemampuan, dan meraih cita-cita perlu dibuka melalui dukungan keluarga, masyarakat, dan lingkungan yang inklusif.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.