Hubungan yang renggang membuat dukungan berpotensi mudah berubah ketika harapan tidak terpenuhi. Partai dapat memperoleh suara tanpa berhasil membangun kepercayaan jangka panjang.
Dalam keadaan demikian, popularitas elite dan posisi dalam pemerintahan belum cukup menjamin loyalitas pemilih apabila hubungan dengan masyarakat hanya terasa menjelang pemungutan suara.
Tantangan representasi juga terlihat ketika 53,3 persen responden menyatakan lebih cenderung memilih calon legislatif, dibandingkan 24,7 persen yang lebih cenderung memilih partai.
Pada saat yang sama, 57,6 persen tidak mengetahui atau mengenal anggota DPR yang mewakili daerahnya.
Kedua temuan ini menunjukkan pentingnya menelaah apakah hubungan pemilih dengan wakil rakyat benar-benar berlanjut setelah pemilu.
Bagi Gerindra, kedekatan identitas dengan Prabowo dapat menjadi kekuatan sekaligus sumber kerentanan.
Secara politik, penilaian terhadap kepemimpinan presiden berpotensi memengaruhi partai yang paling erat diasosiasikan dengannya.











