Kepastian mengenai kekuatan tren memerlukan pemeriksaan kesetaraan metode, pembobotan, dan galat statistik.
Data yang tersedia memberi alasan untuk mencermati arah pelemahan, tetapi belum menjadi dasar untuk menyebut dukungan suatu partai telah runtuh.
Bagi PDIP, tantangannya terletak pada kemampuan membangun kepercayaan sebagai pilihan politik.
Penurunan angka Gerindra belum tampak menjadi keuntungan elektoral bagi PDIP.
Kondisi ini membuka kemungkinan bahwa sebagian masyarakat dapat kecewa terhadap pemerintah tanpa sekaligus percaya kepada partai pesaing.
Kritik terhadap kekuasaan baru memiliki daya tarik elektoral apabila publik melihat kemampuan, konsistensi, dan tawaran perbaikan yang meyakinkan.
Namun, angka agregat tersebut belum menjelaskan perpindahan pemilih. Tidak tersedia dasar untuk memastikan bahwa pendukung Gerindra beralih kepada Golkar, memilih partai lain, atau masuk kategori tidak menjawab.
Demikian pula, besarnya kelompok tanpa jawaban tidak dapat langsung diklaim sebagai penolakan terhadap pemerintah ataupun dukungan tersembunyi kepada oposisi.
Persoalan yang lebih dalam terlihat pada lemahnya hubungan masyarakat dengan partai.
Rilis resmi Poltracking mencatat hanya 12,3 persen responden merasa dekat dengan partai politik, sedangkan 66,8 persen tidak merasa dekat.
Temuan ini memperlihatkan jarak antara kesediaan memilih sebuah partai dan keterikatan yang bertahan terhadap partai tersebut.











