WASHINGTON DC, Radarjakarta.id — Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah menyiapkan paket penjualan persenjataan senilai US$2,8 miliar kepada Israel, yang mencakup sekitar 40.000 bom berbobot 2.000 pon atau sekitar 907 kilogram per unit. Rencana tersebut dilaporkan sejumlah media internasional pada Selasa, 15 September 2026, dari Washington, Amerika Serikat. Informasi ini pertama kali mencuat melalui laporan The Washington Post dan kemudian dikonfirmasi sumber AS kepada Reuters dan Associated Press.
Paket tersebut disebut terdiri atas 20.000 bom MK-84 dan 20.000 BLU-117. Reuters melaporkan rencana penjualan itu telah disampaikan secara informal kepada komite-komite Kongres AS yang berwenang meninjau transaksi senjata bernilai besar. Dengan demikian, pemberitaan mengenai pengiriman perlu dibedakan dari fakta bahwa paket tersebut masih merupakan rencana penjualan dan belum menjadi pengiriman final.
Bom 2.000 pon atau sekitar 900 kilogram bukan jenis munisi baru bagi Israel. Reuters mencatat Israel sebelumnya telah menerima dan menggunakan bom MK-84 dari AS. Pada Februari 2025, misalnya, Israel menerima pengiriman MK-84 setelah Trump mencabut pembatasan yang sebelumnya diberlakukan pemerintahan Joe Biden.
Rencana terbaru tersebut mendapat perhatian karena bobot dan daya rusaknya yang besar. The Washington Post dan AP melaporkan jenis munisi ini sebelumnya menjadi perhatian pemerintahan Biden karena kekhawatiran terhadap potensi korban sipil dalam penggunaannya, khususnya di wilayah padat penduduk.
Al Jazeera, Euronews, ABC News, Reuters, Associated Press, dan The Washington Post sama-sama memberitakan rencana paket persenjataan tersebut pada 15–16 September 2026, dengan rincian utama berupa nilai US$2,8 miliar dan 40.000 bom berbobot 2.000 pon. Namun, sejumlah rincian mengenai proses persetujuan dan pelaksanaan transaksi masih bergantung pada tahapan resmi pemerintah AS.
Dari sisi waktu dan tempat, perkembangan ini berpusat di Washington, AS, ketika pemerintahan Trump menyiapkan paket penjualan senjata untuk Israel pada 15 September 2026. Reuters menyebut Departemen Luar Negeri AS dan Kedutaan Besar Israel belum memberikan tanggapan segera atas permintaan komentar terkait rencana tersebut.
Rencana tersebut memperlihatkan kelanjutan kerja sama pertahanan AS-Israel sekaligus memunculkan kembali perdebatan mengenai penggunaan munisi berat dalam konflik di Timur Tengah. Karena transaksi masih berada pada tahap perencanaan, informasi mengenai kapan seluruh bom akan dikirim, mekanisme pengiriman, dan penggunaan spesifiknya belum dipastikan secara terbuka. ***











