JAKARTA, Radarjakarta.id — Kisah dramatis seorang kolonel Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) yang bertahan hampir 50 jam di wilayah Iran setelah pesawat tempur F-15E Strike Eagle ditembak jatuh kembali terungkap. Perwira yang dikenal dengan kode misi Dude 44 Bravo itu menceritakan pengalaman hidup-mati tersebut dalam wawancara dengan program 60 Minutes CBS yang ditayangkan Minggu, 13 September 2026.
Peristiwa bermula pada 3 April 2026 sekitar pukul 04.40 waktu setempat, ketika F-15E berkode Dude 44 menjalankan misi serangan di wilayah barat daya Iran. Pesawat dua awak itu ditembak menggunakan rudal yang diluncurkan dari darat. Menurut laporan CBS, misi tersebut berlangsung di kawasan pegunungan sebelah selatan Kota Isfahan, dekat wilayah yang saat itu dikaitkan dengan fasilitas penyimpanan material nuklir Iran.
Bravo merupakan weapons systems officer yang duduk di bagian belakang pesawat, sedangkan pilotnya menggunakan kode Alpha. Setelah pesawat terkena rudal, keduanya melakukan ejection dan mendarat terpisah sekitar lima mil. Alpha berhasil ditemukan dan dievakuasi dalam waktu relatif singkat. Namun, Bravo mengalami kondisi jauh lebih buruk karena parasutnya rusak sehingga ia jatuh dengan kecepatan yang diperkirakan mencapai 70 hingga 100 mil per jam. Ia mengalami patah tulang punggung, lengan dan bahu.
Dalam kondisi terluka dan tanpa makanan maupun air yang memadai, Bravo kemudian berusaha menjauh dari lokasi jatuh. Ia memanfaatkan pelatihan bertahan hidup untuk menghindari pasukan Iran yang melakukan pencarian. Meski mengalami cedera serius, Bravo berhasil mendaki hingga sebuah punggungan pegunungan dengan ketinggian sekitar 7.000 kaki dan bersembunyi di medan berbatu selama hampir dua hari.
Upaya penyelamatan kemudian berkembang menjadi operasi pencarian dan penyelamatan tempur berskala besar. Komandan US Central Command Laksamana Brad Cooper mengatakan sekitar 92 personel pasukan khusus berada di darat, sementara ratusan personel lainnya mendukung dari udara dan sekitar 3.000 hingga 5.000 orang terlibat dalam dukungan keseluruhan operasi. Teknologi intelijen dan operasi pengelabuan juga digunakan untuk membantu menemukan posisi Bravo sekaligus menghindari upaya pasukan Iran menangkapnya.
Setelah sekitar 50 jam sejak F-15E ditembak jatuh, Bravo akhirnya ditemukan di punggungan pegunungan dan dievakuasi oleh personel Air Force Pararescue. Ia menggambarkan kedatangan penyelamat sebagai salah satu momen terbesar dalam hidupnya. Dalam wawancara, Bravo juga mengungkapkan bahwa ketika menyadari parasutnya bermasalah saat jatuh, ia berdoa agar dapat melewati situasi tersebut.
Kisah tersebut menjadi perhatian setelah Bravo untuk pertama kalinya berbicara secara terbuka mengenai insiden yang selama berbulan-bulan dirahasiakan. Identitas lengkapnya tidak dipublikasikan karena alasan keamanan. Ia menekankan bahwa keberhasilannya kembali ke AS bukan semata kisah pribadi, melainkan hasil latihan, kerja sama, kepemimpinan dan operasi penyelamatan yang berpegang pada prinsip militer AS untuk tidak meninggalkan personel di belakang.
Catatan redaksional: Saya menggunakan tanggal 3 April 2026 untuk waktu penembakan berdasarkan kronologi Air & Space Forces/Air Force Times yang mencatat kejadian pukul 04.40 waktu setempat. CBS menyebut misi berlangsung pada malam 2 April dan penembakan terjadi dalam rangkaian kejadian tersebut, sehingga kedua tanggal muncul dalam pemberitaan.***











