Rupiah dan Keseimbangan antara Kepercayaan Pasar dan Kedaulatan Produktif Indonesia

Ilustrasi. (Foto: Ist)
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Sejarah ekonomi dunia menunjukkan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak pernah ditentukan oleh nilai tukar semata. Jepang pernah mengalami berbagai tekanan ekonomi dan memiliki rasio utang publik yang jauh lebih tinggi dibanding banyak negara berkembang, namun yen tetap menjadi salah satu mata uang penting dunia karena ditopang oleh kapasitas industri, teknologi, dan produktivitas nasional yang kuat. Korea Selatan juga tidak membangun won yang kuat terlebih dahulu untuk menjadi negara maju.

Sebaliknya, negara tersebut membangun pendidikan, industri manufaktur, teknologi tinggi, dan daya saing ekspor selama puluhan tahun hingga akhirnya memiliki fondasi ekonomi yang kokoh. Fakta-fakta tersebut mengajarkan bahwa mata uang yang kuat bukanlah titik awal pembangunan, melainkan hasil dari pembangunan yang berhasil.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dalam konteks Indonesia, perhatian publik tertuju pada nilai tukar rupiah yang pada 29 Mei 2026 berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di level Rp17.883 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut memunculkan beragam perdebatan.

Ada yang menyalahkan faktor global seperti penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta tingginya ketidakpastian ekonomi internasional. Ada pula yang menyoroti faktor domestik seperti defisit fiskal, arus modal asing, dan persepsi investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Namun persoalan rupiah tidak dapat dipahami secara hitam-putih. Dalam ekonomi modern, nilai tukar merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang bekerja secara bersamaan. Karena itu, pelemahan rupiah tidak boleh dibaca hanya sebagai persoalan pasar keuangan, tetapi juga sebagai momentum untuk mengevaluasi fondasi ekonomi nasional secara lebih menyeluruh.

Dalam konteks inilah, Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care Dan Haidar Alwi Institute, Serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menilai bahwa Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara kepercayaan pasar dan pembangunan Kedaulatan Produktif sebagai fondasi kekuatan ekonomi jangka panjang.

“Pasar memiliki fungsi penting karena mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap arah ekonomi sebuah negara. Namun bangsa tidak boleh menggantungkan seluruh masa depannya pada penilaian pasar jangka pendek, tegas Haidar Alwi dalam keterangannya, Minggu (31/5/2026).

“Negara harus membangun Kedaulatan Produktif, yaitu kemampuan mengubah sumber daya alam, sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kelembagaan nasional menjadi nilai tambah yang berkelanjutan. Pasar dapat menilai kondisi hari ini, tetapi Kedaulatan Produktif menentukan kekuatan bangsa untuk puluhan tahun ke depan. Karena itu, Indonesia harus mampu menjaga kepercayaan pasar tanpa kehilangan keberanian membangun fondasi ekonominya sendiri,” sambungnya.

Pandangan tersebut membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pelemahan rupiah semata-mata persoalan nilai tukar, atau justru bagian dari pelajaran besar mengenai cara sebuah bangsa membangun kekuatan ekonominya?

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.