BEKASI, Radarjakarta.id – Universitas Trilogi melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) bekerja sama dengan Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) DPC Bekasi menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dan Pelatihan sebagai bagian dari rangkaianz kegiatan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Kemendiktisaintek Tahun 2026.
Kegiatan ini berlangsung di Kampung Adat Kranggan, Bekasi, turut dihadiri oleh 18 peserta, termasuk tokoh masyarakat adat Kranggan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi, Ketua LPPM Universitas Trilogi, Ketua Umum Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI), Ketua ASETI Bekasi beserta seniman pencipta Tari Patriot Candrabhaga, Karang Taruna Kampung Adat Kranggan, mahasiswa Universitas Trilogi, serta pelaku budaya setempat.
Tim pengusul PISN yang memimpin kegiatan terdiri dari Dr. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds, M.Si sebagai ketua tim, bersama anggotanya yaitu Dr. Subadi, S.Sn., M.Sn, Dr. Sn. Abdul Haris Rustaman, ST., S.Sn, dan Damar Rangga Putra, S.Ds, M.Ds, dengan dukungan ASETI DPC Bekasi sebagai mitra.
Ketua Tim Pengusul PISN, Dr. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds., M.Si, menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk menyamakan persepsi program, mengidentifikasi kebutuhan mitra, memetakan seluruh aset budaya, serta membangun ekosistem digital yang dapat mendorong hilirisasi produk seni menjadi bernilai ekonomi.
Kegiatan diawali dengan FGD selama tiga sesi, masing-masing berdurasi 45 menit.
Sesi pertama membahas penyamaan persepsi dan kebutuhan mitra, sesi kedua fokus pada pemetaan aset budaya dan visual, dan sesi ketiga membahas rencana pelatihan serta produk turunan, termasuk akun digital dan roadmap implementasi.
Setelah FGD, kegiatan dilanjutkan dengan empat sesi pelatihan yang masing-masing berdurasi 45 menit.
Sesi pertama, Pelatihan Visual Branding & GSM, membahas pengembangan identitas visual produk budaya dan sistem grafis merchandise. Sesi kedua,
“Pelatihan Merchandise & HPP, menekankan transformasi karya seni menjadi produk bernilai ekonomi, perhitungan harga pokok produksi, dan strategi penentuan harga jual,” katanya.
Sesi ketiga, Pelatihan Digital Marketing & Konten Kreatif, mengajarkan storytelling produk, pembuatan konten media sosial, foto dan video promosi.
“Dan sesi keempat, Pendampingan Akun Digital & Katalog Produk, memandu peserta mengoptimalkan akun digital, menyusun katalog produk, dan mengatur sistem pemesanan,” katanya.
Hasil dari FGD dan pelatihan meliputi kesepakatan kebutuhan mitra, pemetaan aset budaya dan visual, daftar kebutuhan produksi, prioritas pelatihan, daftar produk turunan, akun digital, serta roadmap implementasi.
Tindak lanjut kegiatan mencakup penyusunan materi pelatihan tambahan, produksi konten foto dan video, pembuatan katalog digital dan fisik, pengembangan akun digital di Instagram, TikTok, Facebook, WhatsApp Business, YouTube, dan microsite, serta penjadwalan sesi mentoring dan evaluasi implementasi.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem digital dan hilirisasi produk seni, meningkatkan kesejahteraan pelaku budaya, dan mendukung pengembangan ekonomi kreatif di Kampung Adat Kranggan-Gabus Bekasi.
“Kegiatan ini kami harapkan memperkuat kapasitas para pelaku budaya lokal, khususnya di Kampung Adat Kranggan-Gabus Bekasi,” katanya.











