Rupiah dan Keseimbangan antara Kepercayaan Pasar dan Kedaulatan Produktif Indonesia

Ilustrasi. (Foto: Ist)
banner 468x60

Rupiah Rp17.883 dan Pelajaran tentang Cara Kerja Ekonomi Modern

Dalam ilmu ekonomi internasional, nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh permintaan dan penawaran valuta asing. Kurs juga dipengaruhi oleh neraca pembayaran yang terdiri atas transaksi berjalan dan transaksi modal. Transaksi berjalan berkaitan dengan ekspor, impor, jasa, dan pendapatan internasional, sedangkan transaksi modal berkaitan dengan investasi dan pergerakan modal lintas negara.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Karena itu, pelemahan rupiah tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu faktor tunggal. Penguatan dolar AS, tingginya suku bunga internasional, perubahan arus investasi global, serta ketegangan geopolitik memang memberikan tekanan terhadap banyak mata uang negara berkembang. Namun pada saat yang sama, kemampuan sebuah negara menghasilkan devisa, menjaga fiskal yang sehat, meningkatkan produktivitas, dan mempertahankan kepercayaan investor juga memiliki pengaruh yang signifikan.

Banyak masyarakat mengira dolar kuat semata-mata karena Amerika Serikat adalah negara kaya. Padahal sebagian kekuatan dolar justru berasal dari posisinya sebagai mata uang cadangan dunia yang digunakan dalam perdagangan internasional, transaksi energi, investasi global, dan cadangan devisa berbagai negara. Dengan kata lain, kekuatan dolar bukan hanya soal kekayaan ekonomi Amerika, tetapi juga soal kepercayaan dan posisi strategisnya dalam sistem keuangan dunia.

Menurut Haidar Alwi, di sinilah pentingnya membangun Literasi Kurs Nasional. Masyarakat perlu memahami bahwa kurs hanyalah salah satu indikator ekonomi, bukan keseluruhan gambaran tentang kesehatan sebuah bangsa.

“Kesalahan pertama adalah menganggap rupiah melemah berarti Indonesia sedang runtuh. Kesalahan kedua adalah menganggap semua persoalan ekonomi berasal dari faktor global. Kesalahan ketiga adalah menganggap nilai tukar tidak ada hubungannya dengan produktivitas nasional. Padahal ekonomi modern jauh lebih kompleks. Rupiah adalah termometer yang memberi sinyal tertentu, tetapi kekuatan ekonomi sesungguhnya ditentukan oleh kemampuan bangsa membangun daya saing dan nilai tambah secara berkelanjutan,” ujar Haidar Alwi.

Karena itu, membaca rupiah secara cerdas berarti memahami hubungan antara faktor global, kebijakan domestik, dan produktivitas nasional secara bersamaan.

Mengapa Investor Membaca Risiko, Tetapi Bangsa Harus Membangun Kedaulatan Produktif?

Dalam dunia investasi, investor selalu membaca masa depan. Mereka memperhatikan stabilitas politik, kepastian hukum, arah fiskal, kualitas institusi, dan prospek pertumbuhan ekonomi. Investor tidak membeli masa lalu. Mereka membeli kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

Karena itu, menjaga kepercayaan pasar tetap penting bagi Indonesia. Namun Haidar Alwi mengingatkan bahwa tidak semua modal memiliki kualitas yang sama. Ada modal jangka pendek yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen pasar atau dikenal sebagai hot money. Ada pula investasi produktif yang masuk ke sektor industri, teknologi, manufaktur, infrastruktur, dan penciptaan lapangan kerja jangka panjang.

Menurutnya, salah satu kesalahan berpikir yang sering muncul adalah mempertentangkan investor dengan rakyat. Padahal keduanya tidak seharusnya diposisikan sebagai dua kepentingan yang saling berlawanan. Investor membutuhkan negara yang produktif, sementara rakyat membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan kesejahteraan.

Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok memberikan pelajaran yang sama. Negara-negara tersebut tidak membangun kekuatan ekonominya melalui spekulasi nilai tukar, melainkan melalui peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, penguatan industri nasional, dan investasi besar pada kualitas sumber daya manusia.

“Kedaulatan Produktif adalah kemampuan bangsa menciptakan nilai tambah dari kekayaan dan kemampuan yang dimilikinya sendiri. Investor yang baik akan menghargai negara yang memiliki Kedaulatan Produktif karena di situlah terdapat daya tahan ekonomi yang sesungguhnya. Modal dapat membantu mempercepat pembangunan, tetapi produktivitas rakyat adalah mesin yang menggerakkan pembangunan itu sendiri. Semakin tinggi produktivitas nasional, semakin kuat pula fondasi kepercayaan terhadap masa depan ekonomi sebuah bangsa,” jelas Haidar Alwi.

Karena itu, menjaga kepercayaan investor dan membangun produktivitas nasional bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua fondasi yang harus saling memperkuat.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.