JAKARTA, Radarjakarta.id – Aksi pencegatan armada kemanusiaan kembali memicu amarah dunia. Israel menghentikan paksa rombongan Global Sumud Flotilla di perairan internasional, memantik kecaman keras dari berbagai negara. Insiden ini semakin panas setelah sejumlah aktivis dilaporkan ditangkap dan dibawa ke wilayah Israel, termasuk warga sipil dari Malaysia.
Pemerintah Malaysia langsung bereaksi tegas. Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Ia menilai pencegatan di laut bebas sebagai bentuk agresi yang tidak bisa ditoleransi, apalagi terhadap misi kemanusiaan yang membawa bantuan bagi warga Gaza.
Data sementara menyebut sekitar 175 aktivis dari berbagai negara diamankan dalam operasi tersebut. Dari jumlah itu, 10 warga Malaysia dikabarkan ikut ditahan dan hingga kini belum dapat dihubungi. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di Kuala Lumpur, sekaligus mempertegas tuntutan agar keselamatan mereka segera dijamin.
Global Sumud Flotilla sendiri merupakan gerakan solidaritas internasional yang melibatkan puluhan kapal dan ratusan relawan dari lebih 70 negara. Armada ini berangkat dari Barcelona dengan misi menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang tengah dilanda krisis berkepanjangan.
Meski Israel mengklaim tindakan tersebut sebagai langkah pengamanan, banyak pihak menilai operasi itu sebagai bentuk “pembajakan” terhadap kapal sipil. Apalagi, pencegatan dilakukan jauh dari wilayah konflik, tepatnya di sekitar perairan dekat Kreta, Yunani—menambah sorotan tajam terhadap legalitas aksi tersebut.
Malaysia kini bergerak cepat menjalin koordinasi dengan negara-negara sahabat untuk menekan Israel agar segera membebaskan para aktivis. Anwar Ibrahim menegaskan bahwa keselamatan semua pihak harus menjadi prioritas utama. Ia juga menyerukan solidaritas global agar insiden ini tidak dibiarkan menjadi preseden berbahaya bagi misi kemanusiaan di masa depan.| Bemby*











