8 Kemiripan Kematian Sutrimo dengan Brigadir Yosua

Ilustrasi. (Foto: Ist)
banner 468x60

Kemiripan ketujuh terlihat pada keberadaan lingkaran orang yang menghubungkan korban dengan atasannya. Dalam kasus Yosua, orang-orang di sekitar Sambo mempunyai peran berbeda. Ada yang menembak, mengetahui peristiwa, mengikuti perintah, mengamankan CCTV, mengubah barang bukti, dan mempertahankan cerita yang telah disusun.

Dalam kematian Sutrimo juga terdapat sejumlah orang yang perannya belum sepenuhnya terang. Ada pihak yang diduga memanggilnya kembali ke Jakarta, pengirim uang Rp5 juta, orang terakhir yang melihatnya hidup, pemesan ambulans, empat orang yang membawanya ke rumah sakit, penanggung jawab administrasi, pengantar jenazah, serta pihak yang menyerahkan santunan kepada keluarga.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Mereka tidak boleh langsung disamakan dengan lingkaran pelaku dalam kasus Sambo. Namun, kesamaan strukturnya jelas: kebenaran berada di antara sekelompok orang yang mengetahui bagian-bagian berbeda dari perjalanan terakhir korban.

Kemiripan kedelapan menyangkut risiko konflik kepentingan institusional. Sambo merupakan pejabat tinggi Polri ketika kematian Yosua terjadi. Posisi tersebut memberinya akses terhadap bawahan, mekanisme pengawasan, informasi penyelidikan, dan kemampuan memengaruhi respon awal institusi.

Febrie juga bukan tersangka biasa. Ia merupakan mantan pejabat tinggi Kejaksaan Agung yang pernah mengendalikan penyidikan perkara-perkara korupsi terbesar di Indonesia. Kasusnya melibatkan Polri, Kejaksaan Agung, penyitaan aset bernilai sekitar setengah triliun rupiah, serta dinamika penyerahan penanganan perkara antarlembaga.

Perbedaannya, belum ada bukti bahwa Febrie mengendalikan penyelidikan kematian Sutrimo atau memerintahkan pejabat tertentu untuk menghalanginya. Namun, latar belakang kekuasaan dan jaringan institusionalnya membuat penyelidikan harus dijaga dari pengaruh, loyalitas personal, kepentingan korps, serta pertarungan antarlembaga.

Seluruh kemiripan tersebut belum cukup untuk menyebut Sutrimo sebagai Yosua kedua atau Febrie sebagai Sambo kedua. Kesamaan pola bukan kesamaan kejahatan. Yosua terbukti ditembak dan dibunuh secara berencana. Sutrimo ditemukan meninggal tanpa luka kekerasan luar yang diumumkan dan mempunyai riwayat diabetes. Sebab kematiannya masih terbuka antara penyakit, kecelakaan medis, bunuh diri, atau tindakan pihak lain.

Namun, perbedaan tingkat pembuktian itu seharusnya mendorong penyelidikan, bukan menghentikannya. Kasus Sambo menjadi besar karena kebenaran akhirnya berhasil menembus skenario yang dibangun sejak awal. Kasus Sutrimo berisiko tidak pernah mencapai tahap tersebut karena tubuh korban sudah dimakamkan tanpa autopsi, tempat kejadian diperiksa beberapa hari kemudian, dan keluarga tidak mendorong pengujian ulang.

Pelajaran terbesar dari kematian Yosua bukan bahwa setiap atasan pasti membunuh bawahannya. Pelajarannya adalah kekuasaan mampu menguasai lokasi, saksi, barang bukti, narasi, dan respons institusi. Ketika korban merupakan orang dalam yang lemah, negara harus memastikan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh pihak yang paling kuat.

Kematian Sutrimo belum menjadi kasus Sambo kedua. Namun, semua kondisi yang dapat membuat sebuah kematian sulit dibongkar sudah terlihat: korban berasal dari lingkaran dalam pejabat berkuasa, lokasi penemuan berkaitan dengan lingkungan atasannya, jenazah segera dibawa ke kampung halaman, autopsi tidak dilakukan, cerita penyakit muncul lebih awal, dan bukti penentu berada pada perangkat digital serta orang-orang terakhir yang belum sepenuhnya teridentifikasi.

Jika kemiripan tersebut tetap diabaikan, negara sedang mengulangi kesalahan paling berbahaya dari kasus Yosua: membiarkan kekuasaan mempunyai waktu untuk membentuk cerita lebih cepat daripada ilmu forensik menemukan kebenaran.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.