8 Kemiripan Kematian Sutrimo dengan Brigadir Yosua

Ilustrasi. (Foto: Ist)
banner 468x60

Oleh: R. Haidar Alwi
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB

Kematian Sutrimo dan perkara mantan Jampidsus Febrie Adriansyah memperlihatkan kemiripan struktural yang mengkhawatirkan dengan kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat dan kasus Ferdy Sambo.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kemiripan itu terlihat dari posisi korban sebagai orang dalam, ketimpangan relasi kuasa, keterkaitan lokasi kematian dengan lingkungan atasannya, cepatnya jenazah dibawa ke kampung halaman, munculnya penjelasan awal sebelum pemeriksaan forensik tuntas, serta besarnya risiko bukti dikendalikan oleh lingkaran yang mempunyai kepentingan.

Kesamaan tersebut memang belum membuktikan bahwa Sutrimo dibunuh atau Febrie mengulangi perbuatan Sambo. Kasus Yosua telah diputus pengadilan sebagai pembunuhan berencana yang diperintahkan Ferdy Sambo dan diikuti obstruction of justice.

Dalam kasus Sutrimo, penyebab kematiannya sendiri belum ditentukan. Belum ada bukti terbuka mengenai pembunuhan, rekayasa tempat kejadian, penghilangan barang bukti, atau keterlibatan Febrie.

Namun, perkara Sambo mengajarkan bahwa kemiripan pola tidak boleh diabaikan hanya karena kejahatannya belum terbukti.

Kasus Yosua juga tidak langsung muncul sebagai pembunuhan berencana. Peristiwa itu mula-mula diperkenalkan kepada publik sebagai baku tembak antara dua anggota polisi akibat dugaan pelecehan terhadap Putri Candrawathi.

Konstruksi tersebut baru runtuh setelah forensik, CCTV, keterangan saksi, dan kondisi jenazah tidak lagi dapat dipaksa mengikuti cerita awal.

Kemiripan pertama terletak pada posisi kedua korban. Yosua bukan orang luar yang kebetulan berada di rumah dinas Sambo. Ia merupakan ajudan yang hidup dan bekerja di lingkungan pribadi atasannya. Kedekatan itu membuatnya mengetahui rutinitas, perjalanan, komunikasi, konflik, dan dinamika internal keluarga Sambo.

Sutrimo juga bukan orang asing dalam kehidupan Febrie. Ia disebut telah bekerja puluhan tahun sebagai penjaga atau kepala rumah tangga. Posisi itu berpotensi membuatnya mengetahui siapa yang keluar-masuk kediaman Febrie, kendaraan yang digunakan, lokasi yang dijaga, orang yang memegang kunci, serta pergerakan barang sebelum dan sesudah perkara Febrie terbuka.

Baik Yosua maupun Sutrimo menempati posisi sebagai orang dalam dengan pengetahuan yang tidak selalu tercatat dalam dokumen. Mereka mungkin tidak memahami konstruksi pidana yang kelak muncul, tetapi mengetahui kehidupan sehari-hari orang yang mempunyai kekuasaan besar. Pengetahuan semacam itu dapat menjadi berbahaya ketika beririsan dengan konflik, pelanggaran, atau aset yang asal-usulnya sedang diselidiki.

Kemiripan kedua terletak pada ketimpangan relasi kuasa. Yosua berpangkat brigadir, sedangkan Sambo ketika itu menjabat Kadiv Propam Polri dengan pangkat inspektur jenderal. Sambo bukan hanya atasan Yosua, tetapi juga salah satu pejabat yang memiliki pengaruh besar terhadap mekanisme pengawasan dan penegakan disiplin di tubuh Polri.

Sutrimo merupakan pekerja rumah tangga, sedangkan Febrie pernah menduduki posisi Jampidsus dan mengendalikan penanganan berbagai perkara korupsi bernilai triliunan rupiah. Ketimpangan tersebut membuat kedua korban berada dalam hubungan ketergantungan yang sangat besar terhadap atasannya.

Dalam relasi seperti itu, loyalitas, kepatuhan, ketakutan, dan kebutuhan ekonomi dapat bercampur. Pekerja atau bawahan mungkin mengetahui banyak hal, tetapi tidak mempunyai kekuatan yang seimbang untuk menentukan bagaimana informasi itu digunakan, kepada siapa disampaikan, dan bagaimana dirinya dilindungi.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.