PEKALONGAN, RadarJakarta.id — Video penampilan sejumlah peserta Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, viral di media sosial dan memicu beragam komentar. Tampilan karakter menyerupai makhluk mitologi serta adegan yang oleh sebagian pengguna media sosial disebut menyerupai ritual satanic atau okultisme menjadi sorotan. Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi yang membuktikan kegiatan tersebut merupakan ritual satanisme.
SKNC 2026 digelar pada Kamis, 10 September 2026 malam, dengan rute karnaval berada di kawasan Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, hingga kawasan Kertijayan. Kegiatan tersebut diikuti 25 tim/barisan dan menyuguhkan beragam pertunjukan, antara lain ogoh-ogoh, tarian, marching band, sound horeg, serta sepeda hias.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda sosial dan keagamaan masyarakat Simbang Kulon, termasuk khitan massal dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Panitia SKNC, Ghiyats, menjelaskan tema yang diusung adalah “Nyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluran”, yang dimaknai sebagai semangat menjaga tradisi, kebersamaan dan persaudaraan.
Sementara itu, kabar bahwa seorang peserta meninggal akibat mengikuti atau menyaksikan penampilan yang disebut-sebut bernuansa satanic juga beredar di media sosial. Fakta yang terkonfirmasi, Ahmad Faiz (40), warga Simbang Kulon, meninggal dunia pada Jumat, 11 September 2026 pagi. Pihak keluarga menyatakan almarhum mengalami kelelahan setelah hampir tidak tidur selama dua hari karena mempersiapkan kegiatan karnaval sekaligus bekerja. Dengan demikian, klaim yang mengaitkan kematiannya dengan ritual satanic belum terbukti.
Panitia juga belum menyatakan adanya ritual satanisme dalam pelaksanaan SKNC 2026. Sebaliknya, keterangan panitia dan pemberitaan sejumlah media lokal menyebut kegiatan tersebut sebagai ajang kreativitas warga dalam rangkaian Maulid Nabi, dengan puluhan kelompok menampilkan berbagai bentuk seni dan karakter ogoh-ogoh.
Terlepas dari kontroversi visual yang muncul di media sosial, penyelenggaraan karnaval tersebut juga diwarnai persoalan lain. Polisi menyelidiki keributan antara dua pedagang dan sejumlah orang di tengah kerumunan. Kedua pedagang kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Buaran. Kapolsek Buaran AKP Sunarto mengatakan pihaknya masih memeriksa saksi untuk mengetahui kronologi secara utuh.
Dengan demikian, penyebutan SKNC 2026 sebagai “ritual satanic” atau “okultisme” masih sebatas narasi yang berkembang di media sosial, bukan fakta yang telah dikonfirmasi pihak berwenang. |Suyatmi*











