Oleh: Maulana Taslam
Ketua Politik dan Keamanan DPP KAMSRI serta Wasekjen Politik dan Demokrasi PB HMI
Di tengah berbagai kritik yang ditujukan kepada lembaga politik, terutama Dewan Perwakilan Rakyat, publik kerap mempertanyakan apakah parlemen masih menjadi rumah bagi aspirasi rakyat atau justru telah berubah menjadi arena kompromi kepentingan elite. Pertanyaan itu wajar muncul mengingat tingginya ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi politik dalam beberapa tahun terakhir.
Namun di tengah situasi tersebut, saya melihat masih ada ruang optimisme bahwa supremasi sipil tetap hidup dalam praktik demokrasi Indonesia. Salah satu figur yang menurut saya merepresentasikan optimisme itu adalah Wakil Ketua DPR RI, Prof Sufmi Dasco Ahmad.
Dalam teori demokrasi modern, supremasi sipil merupakan prinsip dasar yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Seluruh institusi negara, termasuk parlemen, pemerintah, hingga aparat negara, pada hakikatnya bekerja atas mandat rakyat. Karena itu, fungsi utama DPR bukan hanya membuat undang-undang, melainkan memastikan suara masyarakat tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan negara.
Di sinilah saya melihat peran penting Prof Sufmi Dasco Ahmad. Dalam berbagai dinamika politik nasional, Prof Dasco menunjukkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas politik dan kebutuhan rakyat akan representasi yang kuat. Ia tidak sekadar menjalankan fungsi administratif sebagai pimpinan DPR, tetapi berupaya memastikan parlemen tetap relevan sebagai jembatan antara negara dan masyarakat.
Politik pada hakikatnya bukan sekadar perebutan kekuasaan. Politik adalah instrumen untuk memperjuangkan kepentingan publik. Ketika politik kehilangan keberpihakannya kepada rakyat, maka demokrasi hanya akan menjadi prosedur tanpa substansi. Oleh karena itu, figur-figur yang mampu menjaga ruh kerakyatan dalam politik memiliki arti penting bagi masa depan bangsa.
Saya menilai Prof Dasco memahami betul posisi tersebut. Dalam berbagai momentum penting, ia menunjukkan kapasitas untuk mendengar, menyerap, dan memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui mekanisme politik yang konstitusional. Sikap seperti ini menjadi semakin penting ketika publik sering kali melihat politik sebagai ruang yang jauh dari kepentingan rakyat.
Sebagai aktivis yang tumbuh dalam tradisi gerakan mahasiswa, kami meyakini bahwa demokrasi membutuhkan ruang dialog yang sehat antara negara dan masyarakat sipil. Parlemen seharusnya menjadi arena utama dialog tersebut. Ketika DPR mampu menjalankan fungsi pengawasan, representasi, dan legislasi secara seimbang, maka demokrasi akan tetap memiliki fondasi yang kuat.
Dalam konteks itu, kepemimpinan Prof Dasco di DPR memberikan pesan bahwa politik tidak harus selalu dipahami secara sinis. Politik dapat menjadi sarana pengabdian apabila dijalankan dengan komitmen terhadap kepentingan bangsa. Politik dapat menjadi jalan perjuangan apabila orientasinya tetap berpihak kepada rakyat.
Yang menarik, Prof Dasco juga menunjukkan bahwa kepemimpinan nasional tidak harus tercerabut dari akar daerah. Sebagai putra Sumatera Bagian Selatan, kehadirannya di panggung politik nasional menjadi bukti bahwa daerah mampu melahirkan figur yang memiliki kapasitas besar untuk berkontribusi bagi negara. Hal ini penting untuk terus menguatkan optimisme generasi muda di daerah agar tidak merasa terpinggirkan dalam proses politik nasional.
Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu menjembatani kepentingan negara dengan aspirasi rakyat. Kita membutuhkan politisi yang tidak hanya pandai membangun kekuatan politik, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk menjaga nilai-nilai demokrasi. Kita membutuhkan negarawan yang memahami bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mewujudkan kemaslahatan publik.
Di tengah tantangan demokrasi yang semakin kompleks, kehadiran figur seperti Prof Sufmi Dasco Ahmad menjadi pengingat bahwa supremasi sipil belum mati. Selama masih ada pemimpin yang mau mendengar suara rakyat, memperjuangkan aspirasi masyarakat, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok, maka harapan terhadap demokrasi Indonesia akan tetap terjaga.
Demokrasi tidak hidup karena gedung parlemen berdiri megah. Demokrasi hidup karena ada orang-orang yang menjaga amanat rakyat di dalamnya. Dan dalam pandangan saya, Prof. Sufmi Dasco Ahmad telah menunjukkan ikhtiar ke arah itu.











