SEMARANG, RadarJakarta.id – Batik kembali menjadi sorotan pada Hari Batik Nasional 2026. Di balik keindahan motif dan warna yang melekat pada kain tradisional tersebut, tersimpan perjalanan panjang sejarah, nilai filosofi, kreativitas masyarakat, sekaligus identitas budaya Indonesia yang perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober dinilai tidak cukup hanya dirayakan dengan mengenakan pakaian batik. Momentum tersebut dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran bersama bahwa batik merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sosial, ekonomi, sejarah, dan budaya yang sangat kuat.
Ketua Umum Srikandi TP Sriwijaya, Nyimas Aliah SE., S.Sos., M.Ikom. mengatakan, kecintaan terhadap batik perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan membiasakan masyarakat menggunakan batik sekaligus mengenal cerita, filosofi, motif, serta proses panjang di balik pembuatannya.
“Batik bukan hanya busana, tetapi juga bagian dari identitas budaya Indonesia. Di dalam setiap motif terdapat kreativitas, nilai sejarah, filosofi dan kekhasan daerah yang harus kita kenalkan kepada generasi penerus,” ujar Nyimas dalam keterangannya, Sabtu (4/10/2026).
Menurut Nyimas, batik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Penggunaannya dapat ditemukan dalam berbagai kesempatan, mulai dari kegiatan keluarga, pendidikan, perkantoran, organisasi, kegiatan pemerintahan, acara resmi hingga berbagai aktivitas sosial dan kebudayaan.
Namun, menurut dia, penggunaan batik sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban dalam kegiatan tertentu. Batik perlu ditempatkan sebagai produk budaya yang membanggakan sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Semangat memperkenalkan dan mencintai budaya Nusantara juga ditunjukkan Srikandi TP Sriwijaya melalui kegiatan wisata rohani dan tadabbur alam bertajuk “Jelajah Nusantara” di Semarang dan Pekalongan, Jawa Tengah, pada 29–30 September 2026.
Dalam perjalanan tersebut, para peserta Srikandi TP Sriwijaya mengenakan pakaian batik dari berbagai daerah. Penggunaan batik menjadi bagian dari cara sederhana untuk menunjukkan kecintaan terhadap produk budaya Indonesia sekaligus memperkenalkan keberagaman batik kepada masyarakat.
Bagi Srikandi TP Sriwijaya, kegiatan Jelajah Nusantara tidak sekadar perjalanan wisata. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya, sejarah, tradisi, kuliner, kerajinan, serta potensi ekonomi kreatif yang tumbuh di berbagai daerah.
Semarang dan Pekalongan menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut karena keduanya memiliki kekayaan budaya yang berkaitan erat dengan perkembangan batik di Indonesia.
Pekalongan, misalnya, dikenal luas sebagai salah satu daerah yang memiliki tradisi batik dengan karakter motif dan warna yang beragam. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa batik berkembang mengikuti lingkungan sosial dan budaya masyarakat di setiap daerah.
“Melalui Jelajah Nusantara, kita tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga belajar mengenal kekayaan Indonesia. Ada budaya, sejarah, batik, kuliner, kerajinan dan berbagai potensi masyarakat yang dapat kita lihat secara langsung,” kata Nyimas Aliah.
Nyimas Aliah menilai tantangan pelestarian batik ke depan adalah bagaimana membuat warisan budaya tersebut tetap dekat dengan generasi muda.
Perkembangan industri fesyen yang sangat cepat membuat produk tradisional perlu terus beradaptasi. Karena itu, batik tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk busana konvensional, tetapi dapat dikembangkan melalui desain, warna, model, maupun produk kreatif yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, inovasi bukan berarti meninggalkan akar budaya. Justru melalui inovasi, batik dapat semakin dikenal oleh generasi muda tanpa kehilangan nilai dan karakter yang melekat di dalamnya.
“Generasi muda perlu mengenal batik sejak dini. Jangan sampai batik hanya dikenal ketika ada acara resmi atau kewajiban menggunakan pakaian batik. Batik harus menjadi bagian dari kebanggaan dan kreativitas anak bangsa,” tuturnya.











