Presisi dalam Badai: Listyo Sigit Prabowo dan Keberanian Menjaga Republik dari Dalam

Ilustrasi.
banner 468x60

Dalam dunia yang saling terhubung, keamanan tidak lagi dimulai saat kejahatan terjadi; keamanan dibangun sejak faktor-faktor yang memproduksi ketidakstabilan dapat dibaca dan dicegah. Di sinilah unsur “prediktif” dalam Presisi memperoleh bentuk praktisnya.

Meskipun demikian, warisan terpenting Listyo Sigit tidak akan ditentukan oleh banyaknya program tambahan, gedung, aplikasi, penghargaan, atau angka penindakan. Warisannya akan ditentukan oleh satu perkara yang jauh lebih sulit diukur: apakah masyarakat kecil merasa hukum hadir tanpa harus memiliki uang, kedudukan, atau hubungan dengan penguasa.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Mobil patroli, laboratorium forensik, sistem digital, Korps Brimob, Densus 88, Bareskrim, Kortastipidkor, dan ratusan ribu personel akan kehilangan makna apabila seorang warga tetap takut melapor karena merasa tidak akan didengar.

Karena itu, dorongan Listyo Sigit agar layanan 110 merespon cepat pengaduan masyarakat merupakan bagian penting dari perubahan hubungan antara negara dan warga. Kehadiran polisi diukur bukan ketika sirene terdengar setelah semuanya terlambat, tetapi ketika masyarakat mengetahui bahwa satu panggilan akan memperoleh jawaban.

Gajah Mada pernah memimpin Bhayangkara untuk menjaga raja dan menyelamatkan pusat kekuasaan. Tujuh abad kemudian, nama Bhayangkara hidup dalam institusi yang mempunyai amanah lebih luas: bukan menjaga seorang raja, tetapi melindungi seluruh rakyat; bukan mempertahankan takhta, tetapi menjaga konstitusi; bukan menaklukkan wilayah, tetapi memastikan tidak ada wilayah hukum yang dikuasai kejahatan.

Karena itu, Listyo Sigit tidak perlu ditempatkan sebagai Gajah Mada baru. Perbandingan seperti itu justru mengecilkan kompleksitas pekerjaannya.

Gajah Mada bekerja dalam tata kekuasaan kerajaan yang menempatkan kehendak penguasa sebagai pusat negara. Listyo Sigit bekerja dalam republik demokratis, di bawah konstitusi, pengawasan publik, hukum acara, pers bebas, parlemen, pengadilan, serta jutaan warga yang dapat menguji setiap tindakannya dalam hitungan detik. Gajah Mada menyatukan wilayah melalui ekspedisi kekuasaan. Kapolri harus menjaga persatuan melalui keadilan.

Tugas itu lebih senyap daripada perang, tetapi akibat kegagalannya dapat sama dahsyatnya. Negara tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Negara dapat melemah ketika rakyat kehilangan keyakinan bahwa hukum masih sanggup membedakan yang benar dari yang berkuasa. Ketika kepercayaan itu runtuh, seragam hanya menyisakan kewenangan tanpa legitimasi.

Listyo Sigit masih berada di tengah perjalanan. Penilaian sejarah belum selesai dan tidak seharusnya dipaksakan selesai. Ia memimpin institusi besar dengan prestasi, beban masa lalu, kelemahan struktural, serta tuntutan publik yang terus meningkat.

Namun, satu jejak telah terlihat: ia pernah memerintahkan hukum bergerak ke dalam tubuh Polri sendiri, memperkuat mesin pemberantasan korupsi, menghadapi krisis tanpa meninggalkan komando, dan menjaga institusi tetap berdiri ketika kepercayaan publik diguncang oleh kesalahan orang-orang berpangkat tinggi.

Sumpah seorang Kapolri bukan Sumpah Palapa. Ia tidak berjanji menaklukkan Nusantara dan tidak memikul mandat membangun imperium. Sumpahnya lebih dekat, lebih konkret, dan setiap hari diuji: setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, menaati hukum, melindungi masyarakat, serta menjaga kehormatan institusi.

Palapa berbicara tentang penyatuan wilayah. Presisi seharusnya berbicara tentang penyatuan hukum dan keadilan—agar hukum yang berlaku di gang sempit juga berlaku di ruang pejabat; agar borgol yang dapat menjangkau rakyat kecil tidak kehilangan daya ketika berhadapan dengan jenderal, jaksa, menteri, pengusaha, ataupun pemilik kekuasaan.

Itulah amanah yang berada di pundak Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Bukan amanah untuk dikenang sebagai manusia tanpa cela, tetapi untuk membuktikan bahwa di republik ini masih ada pemimpin yang berani membersihkan rumahnya sendiri, menembus wilayah yang dianggap kebal, dan meletakkan hukum lebih tinggi daripada pangkat serta persahabatan.

Sebab pada akhirnya, seorang jenderal tidak menjadi besar karena banyaknya pasukan yang memberi hormat kepadanya. Ia menjadi besar ketika kekuasaan yang berada di tangannya membuat rakyat kecil tidak lagi harus menundukkan kepala di hadapan ketidakadilan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.