JAKARTA, Radarjakarta.id – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sukur Nababan menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa dan guru penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang.
Kasus terbaru menimpa ratusan siswa SMK Negeri 6 Semarang yang harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengonsumsi makanan dari Program MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan.
Menurut Sukur, insiden tersebut menjadi peringatan serius bahwa pelaksanaan program pemenuhan gizi nasional tidak boleh mengabaikan aspek keamanan pangan, standar operasional, serta pengawasan kualitas makanan.
“Program yang bertujuan meningkatkan kesehatan anak justru tidak boleh menimbulkan risiko baru bagi keselamatan peserta didik,” tegas Sukur Nababan kepada wartawan, Senin (3/8/2026).
Fraksi PDI Perjuangan, lanjut Sukur, mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola Program MBG agar perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, benar-benar menjadi prioritas utama.
“Usut tuntas kasus keracunan yang terjadi di Semarang. SPPG terkait harus dievaluasi dan BGN wajib menjamin Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai tujuan, yakni memenuhi kebutuhan gizi sekaligus menjamin keamanan pangan,” ujarnya.
Sukur menyampaikan tiga poin utama yang menjadi sikap Fraksi PDI Perjuangan di Komisi IX DPR RI, yakni:
1. Mendesak pemerintah melakukan investigasi secara transparan dan menyeluruh untuk memastikan penyebab keracunan, termasuk proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga standar keamanan bahan pangan yang digunakan.
2. Meminta Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan, dan pemerintah daerah memperkuat standar keamanan pangan, meningkatkan pengawasan berkala, serta melakukan audit terhadap seluruh dapur dan penyedia layanan MBG.
3. Menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan peserta didik harus menjadi indikator utama keberhasilan Program MBG, bukan semata-mata besarnya jumlah penerima manfaat.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap dugaan awal penyebab insiden keamanan pangan yang menimpa ratusan siswa SMK Negeri 6 Semarang usai mengonsumsi makanan Program MBG.
Dugaan sementara mengarah pada penggunaan sejumlah bahan makanan serta proses memasak yang dilakukan terlalu dini sebelum makanan didistribusikan kepada para penerima.
Kepala BGN, Sudaryono mengatakan, penyebab pasti insiden tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan.
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Semarang, sebanyak 707 orang tercatat mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan Program MBG. Mayoritas korban mengalami gejala pusing, mual, muntah, dan diare.











