DEPOK, Radarjakarta.id – Kegiatan Depok Heritage 2026 yang di gelar di Jalan Pemuda, Depok Lama Kecamatan Pancoran Mas meningkatkan nilai-nilai toleransi antar sesama anak bangsa.
Walikota Depok H Supian Suri mengatakan itu saat membuka kegiatan Depok Heritage 2026 sekaligus memperingati 312 tahun sejarah Kaoem Depok.
“Kita punya tanggung jawab mewariskan heritage yang kita miliki, kekayaan budaya yang kita miliki, salah satunya adalah di kawasan Depok Lama. Ini yang pertama, jadi ini satu kebahagiaan buat saya,”katanya.
Dia menambahkan, kegiatan ini dapat meningkatkan nilai-nilai toleransi antar sesama anak bangsa.
“Mungkin teman-teman media juga bisa merasakan, bagaimana suasana kebersamaan yang terbangun, dan bagaimana suasana yang memang juga dihadirkan oleh teman-teman Yayasan Lembaga Cornelis Chastelin atau YLCC,”katanya.
Supian juga memberikan apresiasi karena acara ini tidak hanya menampilkan, budaya dan sajian kuliner, tapi juga menghadirkan nilai-nilai bersejarah era kolonial Belanda yang dikemas dalam mini studio.
“Mudah-mudahan ini menjadi potensi kebaikan buat Kota Depok, apakah itu kebaikan mempererat silaturahim kebersamaan, juga kebaikan orang-orang lain akan bisa banyak datang ke sini dengan apa yang kita miliki hari ini,” tuturnya.
Pihaknya akan mencoba melihat konsep kota tua yang sudah ada di sejumlah daerah.
Menurutnya, itu bisa menjadi alternatif destinasi wisata, salah satunya seperti Malioboro yang menjadi ikon Kota Jogja.
“Semangatnya ke sana, tetapi memang sekali lagi, semangat awalnya lebih kepada bagaimana kita mewariskan sejarah ini. Bukan pada orientasi pragmatis hari itu,” jelasnya
Kalau itu menjadi bagian yang kebaikan dengan lahirnya akan mewujudkan merawat heritage, itu menjadi bagian nilai tambah buat Kota Depok.
“Jadi sekali lagi, mudah-mudahan kolaborasi yang terbangun tadi, banyak hal yang sudah diwujudkan nih melalui YLCC, melalui TP3D, termasuk mungkin nih, pohon nih, pohon sejarah kita rawat,” katanya.
Supian mengungkapkan, yang jadi persoalan ketika bangunan bersejarah itu milik pribadi atau warisan.
“Kita berharap sih ke depan kita bisa mengambil dalam arti ini menjadi milik publik ya. Kita bisa beli, kita bisa bangun titik-titik yang lain, termasuk juga potensi-potensi yang memang enggak lepas dari sejarah hadirnya Kaoem Depok.”katanya.
Supian menegaskan, persaudaraan yang terjalin di antara Kaoem Depok kini telah meluas menjadi persaudaraan seluruh warga Kota Depok.
Baginya, kebersamaan lintas generasi yang hadir dalam festival tersebut menjadi bukti bahwa nilai sejarah masih hidup dan relevan bagi masa depan.
Ia menilai generasi muda perlu belajar dari para leluhur Kaoem Depok tentang pentingnya menjaga persatuan.
Di lokasi sama, Ketua Umum YLCC, Revelino Isakh, mengatakan kegiatan ini menjadi momentum penting dalam perjalanan pelestarian warisan sejarah Kaum Depok.
“Karena ini adalah satu sejarah, kita bisa melaksanakannya bersama-sama dengan Pemerintah Kota. Ini menjadi bentuk sinergi dan kolaborasi. Baru tahun ini terjadi seperti ini dan kami berharap ke depan bisa terus bersinergi dengan Pemkot sehingga sejarah itu tetap terjaga,” katanya.
Dia menambahkan, Pemkot memang memiliki peran penting dalam merangkul seluruh elemen masyarakat, termasuk komunitas yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
Ia menilai langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Depok saat ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam merawat identitas daerah melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas.
“Memang sudah seharusnya seperti ini. Pemerintah kota hadir untuk semua masyarakatnya, termasuk masyarakat yang memiliki sejarah, budaya, dan identitas. Semua diserap oleh Pemkot, kemudian kita bersinergi sehingga melahirkan hal-hal baru yang menjadi kenangan sekaligus keberhasilan pemerintah dalam hadir di tengah masyarakat,” katanya.
Di luar penyelenggaraan festival, Revelino mengatakan YLCC ingin memperkenalkan Depok sebagai living heritage, yaitu warisan sejarah yang masih hidup hingga saat ini.










