Bahlil Beri Sinyal BBM Non-Subsidi Turun, Harga Minyak Dunia Jadi Kunci

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Kabar baik bagi pengguna bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah membuka peluang penurunan harga BBM non-subsidi apabila tren harga minyak mentah dunia terus mengalami pelemahan dalam beberapa waktu ke depan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah perkembangan pasar energi global yang mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah sebelumnya sempat bergejolak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Kementerian ESDM menyebut penentuan harga BBM non-subsidi sangat bergantung pada pergerakan harga minyak mentah internasional dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurut Bahlil, pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia sebelum mengambil keputusan terkait penyesuaian harga BBM. Jika harga minyak global turun secara berkelanjutan, maka harga BBM non-subsidi berpotensi ikut terkoreksi mengikuti mekanisme pasar. Sebaliknya, jika harga minyak kembali melonjak akibat faktor geopolitik maupun gangguan pasokan, maka harga BBM non-subsidi juga dapat mengalami penyesuaian.

Sinyal penurunan harga tersebut semakin kuat setelah Indonesian Crude Price (ICP) pada Mei 2026 tercatat turun menjadi sekitar US$106,56 per barel seiring meredanya ketegangan geopolitik global. Penurunan ICP menjadi indikator penting karena berpengaruh terhadap struktur biaya pengadaan BBM nasional.

Di sisi lain, sejumlah analis energi menilai tren harga minyak dunia saat ini masih rentan terhadap dinamika global. Faktor perang, kebijakan produksi negara-negara anggota OPEC+, hingga kondisi ekonomi Amerika Serikat dan China masih menjadi penentu utama arah harga minyak dalam beberapa bulan mendatang. Karena itu, peluang penurunan harga BBM non-subsidi tetap terbuka namun sangat bergantung pada kestabilan pasar internasional.

Sebelumnya, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar subsidi tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meredam dampak gejolak energi global terhadap perekonomian nasional.

Data menunjukkan harga BBM non-subsidi memang lebih fleksibel mengikuti perkembangan pasar dibanding BBM bersubsidi. Bahkan pada awal Juni 2026, beberapa jenis BBM non-subsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex telah mengalami penurunan harga sebagai dampak melemahnya harga minyak dunia dan membaiknya kondisi pasokan energi global.

Pelaku usaha transportasi dan logistik menyambut positif sinyal tersebut. Mereka berharap penurunan harga BBM non-subsidi dapat menekan biaya operasional dan membantu menjaga stabilitas harga barang di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung.

Dengan tren harga minyak yang mulai bergerak turun, masyarakat kini menanti langkah pemerintah dan badan usaha penyedia BBM dalam melakukan evaluasi harga pada periode berikutnya. Jika tren pelemahan minyak dunia berlanjut, bukan tidak mungkin harga BBM non-subsidi kembali turun dan memberikan ruang napas bagi konsumen serta dunia usaha.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.