Dari Irak dan Libya ke Iran, Lalu Tiongkok: Pelajaran Paling Mahal tentang Kedaulatan untuk Indonesia

R. Haidar Alwi. (Foto: Ist)
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Kita buka tirai kemunafikan tatanan dunia Barat yang selama ini dicekokkan ke kepala kita lewat buku teks, terutama media massa Barat. Selama puluhan tahun, demokrasi ala Amerika kerap dipasarkan seolah-olah menjadi resep universal bagi seluruh bangsa, sementara kekuatan Barat ditempatkan sebagai standar moral dunia.

Padahal geopolitik bekerja dengan hukum yang jauh lebih keras: negara kuat memperjuangkan kepentingannya, sedangkan negara lemah lebih mudah menjadi arena kepentingan orang lain. Sejarah Irak dan Libya memberikan pelajaran yang tidak boleh dilupakan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Irak diserang Amerika dan sekutunya pada 2003 dengan salah satu alasan utama berupa tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal yang kemudian tidak ditemukan, sedangkan Libya pada 2011 mengalami intervensi militer NATO dalam konteks konflik yang kemudian berujung pada jatuhnya Muammar Gaddafi.

Dua kasus dengan konteks berbeda itu sama-sama menunjukkan betapa menentukan narasi internasional ketika sebuah negara menjadi sasaran tekanan kekuatan besar.

Karena itu, bangsa yang berdaulat tidak cukup hanya memiliki suara di forum internasional. Ia membutuhkan kekuatan ekonomi, teknologi, pertahanan, diplomasi, sumber daya manusia, dan keberanian mempertahankan kepentingannya sendiri. Persoalan inilah yang membuat Iran menjadi pelajaran geopolitik yang sangat penting bagi Indonesia.

Selama puluhan tahun Iran berada di bawah tekanan Amerika, menghadapi sanksi, pembatasan finansial, tekanan diplomatik, ancaman militer, dan konflik terbuka, tetapi Teheran tetap mempertahankan ruang untuk menentukan arah strategisnya sendiri. Iran membangun kemampuan pertahanan dan teknologi domestik, memperluas hubungan dengan kekuatan non-Barat, serta menggunakan posisi geografisnya untuk memperkuat daya tawar.

Dalam konteks inilah Ir. R. Haidar Alwi, MT, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menilai Indonesia membutuhkan new mind: bukan mentalitas mencari perlindungan dari kekuatan besar, melainkan mentalitas membangun kekuatan sendiri. Dunia tidak akan memberikan kedaulatan sebagai hadiah. Kedaulatan diperoleh dan dipertahankan melalui kapasitas nasional.

“Bangsa yang kuat tidak hidup dengan meminta izin kepada bangsa lain untuk menentukan masa depannya. Indonesia dapat bersahabat dengan siapa pun, tetapi keputusan tentang kepentingan nasional Indonesia tetap berada di tangan bangsa Indonesia sendiri,” kata Haidar Alwi.

Pernyataan tersebut menjadi titik masuk untuk memahami mengapa pengalaman Iran jauh lebih penting daripada sekadar perdebatan mengenai suka atau tidak suka terhadap sebuah negara. Iran menunjukkan bahwa menghadapi tekanan tidak cukup dengan retorika. Sebuah bangsa perlu membangun kemampuan agar tekanan dari luar tidak otomatis berubah menjadi kendali atas keputusan di dalam negeri. Di titik inilah warisan strategis Ali Khamenei menjadi penting untuk dibaca.

Iran: Ketika Kedaulatan Tidak Dinegosiasikan kepada Washington

Iran selama puluhan tahun memperlihatkan satu prinsip yang konsisten: hubungan dengan kekuatan besar dapat berubah, tetapi kepentingan nasional tidak boleh diserahkan begitu saja kepada kekuatan tersebut. Amerika mempunyai kekuatan ekonomi, finansial, teknologi, dan militer yang sangat besar, tetapi tekanan tersebut tidak membuat Iran berhenti membangun kapasitas nasionalnya.

Iran mengembangkan industri pertahanan, teknologi rudal dan drone, kemampuan domestik, jaringan perdagangan, serta hubungan strategis dengan negara seperti Tiongkok dan Rusia. Bahkan tekanan ekonomi yang semakin keras pada 2026 tidak otomatis menghapus kemampuan Iran untuk memainkan kartu geopolitiknya.

Ketika Amerika meningkatkan tekanan finansial terhadap Teheran melalui sanksi baru, Iran tetap berupaya mempertahankan jalur perdagangan dan hubungan ekonomi alternatif. Inilah yang membedakan negara yang sekadar besar secara geografis dengan negara yang berusaha membangun strategic autonomy.

Ali Khamenei menjadi salah satu figur paling menentukan dalam perjalanan tersebut. Selama lebih dari tiga dekade sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, ia menempatkan kemandirian nasional, penolakan terhadap dominasi asing, dan pembangunan kekuatan domestik sebagai bagian penting dari strategi Republik Islam.

Ali Khamenei wafat pada 28 Februari 2026 dalam serangan Amerika-Israel, dan Mojtaba Khamenei kemudian ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret 2026. Namun pergantian kepemimpinan tidak menghapus pentingnya warisan strategis Ali Khamenei. Justru perjalanan panjang Iran memperlihatkan bahwa sebuah gagasan tentang kedaulatan dapat menjadi bagian dari orientasi strategis sebuah negara selama puluhan tahun.

“Warisan Ali Khamenei yang paling penting bagi saya bukan sekadar keberaniannya berbicara keras kepada Amerika. Yang lebih penting adalah gagasan bahwa bangsa yang ingin dihormati perlu memiliki kemampuan untuk berdiri dengan kekuatannya sendiri. Indonesia dapat mengambil pelajaran itu tanpa kehilangan karakter dan jalan Indonesia sendiri,” ujar Haidar Alwi.

Dari sini terlihat bahwa kekuatan Iran bukan semata-mata persoalan militer. Pertahanan, teknologi, diplomasi, ekonomi, energi, dan geografi dipadukan menjadi instrumen daya tawar. Dan ketika kita berbicara mengenai geografi Iran, kita sampai pada salah satu kartu strategis paling besar yang dimilikinya: Selat Hormuz.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.