Dari Irak dan Libya ke Iran, Lalu Tiongkok: Pelajaran Paling Mahal tentang Kedaulatan untuk Indonesia

R. Haidar Alwi. (Foto: Ist)
banner 468x60

Indonesia: Jangan Menjadi Satelit Kekuatan Manapun

Indonesia tidak perlu mencari musuh baru. Indonesia perlu membangun kekuatan baru. Amerika boleh menjadi mitra, Tiongkok boleh menjadi mitra, Iran boleh menjadi mitra, Rusia, India, Eropa dan negara lainnya juga dapat menjadi mitra. Tetapi tidak satu pun boleh menjadi penentu tunggal arah Indonesia.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Inilah makna politik luar negeri bebas aktif jika diterjemahkan ke dalam geopolitik abad ke-21: bebas bukan berarti pasif, dan aktif bukan berarti menjadi pengikut salah satu blok. Indonesia dapat bekerja sama dengan semua pihak dari posisi yang semakin setara, karena kepentingan nasional tidak boleh ditukar dengan ketergantungan.

Negara yang mudah dipengaruhi dari luar biasanya bukan hanya karena tekanan eksternal, tetapi karena ada celah internal. Korupsi, lemahnya industri strategis, ketergantungan teknologi, ketergantungan pembiayaan, ketahanan energi dan pangan yang tidak kuat, serta kualitas institusi negara semuanya dapat mempersempit ruang kedaulatan.

Karena itu, membangun pemerintahan yang bersih, industri nasional yang kuat, teknologi domestik, pertahanan yang tangguh, pendidikan berkualitas, dan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah bukan sekadar agenda pembangunan. Itu adalah agenda pertahanan kedaulatan.

“Indonesia tidak perlu menjadi anti-Amerika, anti-Tiongkok, atau anti-negara mana pun. Yang perlu kita bangun adalah Indonesia yang tidak mudah dipaksa oleh siapa pun. Ketika kita kuat, kita dapat bersahabat dengan dunia tanpa kehilangan kepentingan nasional kita,” kata Haidar Alwi.

Itulah inti new mind yang diperlukan Indonesia. Kita belajar dari Iran tanpa menjadi Iran. Kita belajar dari Tiongkok tanpa menjadi Tiongkok. Kita mengambil keberanian, disiplin strategis, pembangunan kekuatan, dan kesadaran kedaulatan mereka, lalu mengolahnya sesuai Pancasila, konstitusi, dan karakter Indonesia. Sebab tujuan akhirnya bukan mencari patron baru, melainkan mengakhiri mentalitas membutuhkan patron.

Indonesia tidak boleh menunggu dunia berubah terlebih dahulu. Indonesia perlu mengubah kapasitas dirinya sendiri. Ketika negara memiliki ekonomi kuat, teknologi kuat, pertahanan kuat, industri kuat, diplomasi kuat, sumber daya manusia kuat, dan institusi yang bersih, maka tekanan eksternal tidak mudah berubah menjadi kendali internal.

Irak dan Libya mengajarkan betapa mahalnya ketika sebuah negara kehilangan kendali atas perjalanan sejarahnya sendiri. Iran memperlihatkan arti mempertahankan ruang strategis di tengah tekanan Amerika.

Tiongkok memperlihatkan bagaimana pengalaman penghinaan dapat diubah menjadi pembangunan kekuatan. Indonesia memiliki sejarah, sumber daya, penduduk, geografi, dan pasar yang memungkinkan kita mengambil pelajaran dari semuanya.

“Pada akhirnya pilihan Indonesia sederhana: menjadi bangsa yang menentukan arah sejarahnya sendiri atau menjadi bangsa yang arah sejarahnya ditentukan oleh kekuatan lain. Kita tidak sedang membangun Indonesia untuk memusuhi dunia. Kita sedang membangun Indonesia agar dunia menghormati kita.”

“Ketika Indonesia kuat, kita dapat bekerja sama dengan siapa pun tanpa tunduk kepada siapa pun. Ketika Indonesia berdaulat, persahabatan menjadi pilihan, bukan kebutuhan karena ketergantungan. Itulah wajah Indonesia yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkas Haidar Alwi.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.