Dari Irak dan Libya ke Iran, Lalu Tiongkok: Pelajaran Paling Mahal tentang Kedaulatan untuk Indonesia

R. Haidar Alwi. (Foto: Ist)
banner 468x60

Hormuz: Geografi yang Membuat Dunia Memperhitungkan Iran

Selat Hormuz membuktikan bahwa geografi dapat berubah menjadi kekuatan ketika sebuah negara memahami nilai strategis wilayahnya. Jalur tersebut merupakan salah satu koridor energi paling penting dunia, sehingga setiap eskalasi serius di sekitarnya dapat memengaruhi harga minyak, pelayaran, rantai pasok, dan perekonomian global.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Karena itu, posisi Iran tidak dapat dihitung hanya dari ukuran ekonominya. Iran berada di titik geografis yang membuat kepentingan energi dunia bersinggungan langsung dengan kepentingan nasionalnya. Pada 2026, ketegangan Iran-Amerika bahkan kembali memperlihatkan betapa cepat persoalan di kawasan tersebut merambat ke pasar energi dunia.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal geopolitik yang sangat besar. Indonesia berada di antara dua samudra, memiliki sejumlah selat strategis, pasar domestik raksasa, sumber daya alam, serta posisi penting dalam Indo-Pasifik.

Tetapi semua modal tersebut baru menjadi kekuatan apabila dikelola oleh negara yang mempunyai visi dan kapasitas. Kekayaan yang hanya diekspor sebagai bahan mentah bukan kekuatan.

Jalur perdagangan yang tidak ditopang kemampuan maritim bukan kekuatan. Populasi besar tanpa penguasaan teknologi bukan kekuatan. Karena itu, pelajaran Hormuz bagi Indonesia sangat sederhana: geografi menjadi daya tawar ketika negara mampu mengubahnya menjadi kapasitas strategis.

“Indonesia sesungguhnya memiliki kartu geopolitik yang sangat besar. Persoalannya bukan apakah kita memiliki modal, tetapi apakah kita cukup kuat mengubah modal tersebut menjadi daya tawar. Indonesia bukan bangsa kecil. Indonesia hanya perlu berhenti berpikir seperti bangsa yang kecil,” tegas Haidar Alwi.

Dari Iran kita belajar tentang keberanian mempertahankan ruang strategis. Dari geografi Iran kita belajar bahwa posisi dapat menjadi kekuatan. Tetapi kekuatan strategis tidak mungkin bertahan tanpa fondasi ekonomi dan industri. Di sinilah Tiongkok memberikan pelajaran berikutnya.

Tiongkok: Luka Sejarah Diubah Menjadi Kekuatan

Tiongkok mengingat Century of Humiliation, termasuk Perang Opium dan penetrasi kekuatan asing, sebagai pengalaman sejarah ketika kelemahan nasional membuat negaranya kehilangan ruang menentukan nasib sendiri. Pelajaran yang kemudian dibangun adalah sederhana: jangan kembali menjadi lemah.

Setelah reformasi 1978, Tiongkok membangun ekonomi, industri, infrastruktur, pendidikan, teknologi, dan kapasitas negara dalam skala luar biasa besar. Bank Dunia mencatat hampir 800 juta orang telah keluar dari kemiskinan ekstrem dalam beberapa dekade, sementara sejak 1978 ekonomi Tiongkok tumbuh rata-rata lebih dari 9 persen per tahun. Angka tersebut memperlihatkan satu hal: kedaulatan strategis membutuhkan kekuatan material.

“Tiongkok menunjukkan bahwa sejarah tidak cukup dikenang. Luka sejarah dapat diubah menjadi tenaga untuk membangun ekonomi, industri, teknologi dan kekuatan nasional. Indonesia juga mempunyai sejarah panjang kolonialisme. Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang pernah menjajah kita, tetapi apakah kita telah membangun kekuatan sehingga tidak mudah didikte siapa pun,” tutur Haidar Alwi.

Iran menunjukkan keberanian menghadapi tekanan geopolitik. Tiongkok menunjukkan bagaimana kekuatan ekonomi dan kapasitas negara dibangun dalam jangka panjang. Dua pengalaman itu membawa kita pada persoalan Indonesia sendiri: jangan sampai bangsa dengan sumber daya dan posisi strategis sebesar ini hanya menjadi pasar, pemasok bahan mentah, konsumen teknologi, atau objek perebutan pengaruh.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.