JAKARTA, Radarjakarta.id – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang semakin melekat dalam kehidupan anak-anak, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat komitmennya menghadirkan ruang publik yang aman, edukatif, dan ramah anak.
Salah satu langkah nyata tersebut diwujudkan melalui peresmian LapakMain Corner di RPTRA Tunas Muda, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang menjadi simbol kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun ekosistem digital yang sehat bagi generasi muda.
Peresmian LapakMain Corner pada Selasa (4/8) dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, bersama Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital RI Bonifasius Wahyu Pudjianto, Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Firmanuddin Ibrahim, serta jajaran pimpinan PT Bukalapak.com Tbk.
Program ini merupakan hasil kolaborasi Lapakgaming bersama PT Bukalapak.com Tbk, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperkuat ruang publik yang mendukung tumbuh kembang anak sekaligus meningkatkan literasi digital di tengah derasnya arus perkembangan teknologi.
Kepala Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, menegaskan bahwa perlindungan anak di era digital tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata.
Menurutnya, dibutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan agar anak-anak dapat memanfaatkan teknologi secara positif tanpa kehilangan ruang untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan sosialnya.
Ia menjelaskan, LapakMain Corner menjadi inovasi penting karena menghadirkan keseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas nyata melalui berbagai fasilitas edukatif yang tersedia di RPTRA.
“Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang membuat anak-anak semakin akrab dengan gawai, kehadiran LapakMain Corner menjadi sangat penting. Fasilitas ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk tetap berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar sehingga tercipta keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata,” ujar Dwi Oktavia.
Menurutnya, ruang bermain tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang mampu mengembangkan kreativitas, karakter, kemampuan berpikir, serta keterampilan sosial anak sejak usia dini.
Dwi berharap konsep LapakMain Corner dapat menjadi model kolaborasi yang dikembangkan di berbagai RPTRA lainnya di Jakarta sebagai bagian dari penguatan Kota Layak Anak.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi anak di ruang digital semakin kompleks. Mulai dari perundungan siber (cyberbullying), paparan konten yang tidak sesuai usia, penyalahgunaan data pribadi, hingga kecanduan penggunaan gawai menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius.
Karena itu, menurut Dwi, penyediaan ruang publik yang mendorong anak membaca, bermain, berkreasi, dan berinteraksi secara langsung menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung perlindungan anak secara menyeluruh.
“Membangun kota ramah anak tidak cukup hanya dengan menyediakan infrastruktur. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan lingkungan yang aman, mendukung kreativitas, serta memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk tumbuh sesuai potensinya. Kami juga mengajak seluruh orang tua agar terus mendampingi anak menggunakan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga, sekolah, masyarakat, dan dunia usaha.
Ia menyebut keberadaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman bagi anak, termasuk pengaturan penggunaan akun media sosial berdasarkan usia.
Namun demikian, Bonifasius menilai keberhasilan regulasi tersebut sangat bergantung pada kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, literasi digital tidak hanya mengajarkan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga membentuk karakter, etika, serta kemampuan berpikir kritis agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara aman dan produktif.
“Kolaborasi multipihak seperti LapakMain Corner menjadi langkah nyata menciptakan ruang digital yang aman, edukatif, dan mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Direktur Utama PT Bukalapak.com Tbk, Natalia Firmansyah, mengatakan pihaknya berkomitmen menghadirkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga memiliki dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.
Melalui LapakMain Corner, Bukalapak ingin mendukung peningkatan literasi digital, perlindungan anak, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Ia juga mengajak pemerintah, dunia usaha, komunitas, lembaga pendidikan, hingga keluarga untuk bersama-sama menciptakan ekosistem digital yang sehat, aman, dan produktif bagi generasi penerus bangsa.
LapakMain Corner sendiri dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, mulai dari koleksi buku bacaan anak, permainan edukatif, hingga sarana literasi digital yang dirancang untuk membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
Peresmian fasilitas tersebut juga diramaikan dengan berbagai kegiatan edukatif seperti sesi mendongeng interaktif, sosialisasi pendampingan anak di ruang digital bagi orang tua, layanan Digital Addiction Response Assistance (DARA) dari Kementerian Komunikasi dan Digital, serta pemeriksaan kesehatan gratis bagi ibu dan anak.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap semakin banyak ruang publik yang aman, inklusif, dan ramah anak sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat, kreatif, berdaya saing, serta siap menghadapi tantangan masa depan menuju Jakarta sebagai kota global yang ramah anak dan keluarga.











