New York, Radarjakarta.id – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto resmi menginjakkan kaki di New York, Amerika Serikat, Sabtu (20/9/2025) petang waktu setempat. Lawatan ini bukan sekadar diplomasi rutin, melainkan momentum besar yang diyakini bakal mengulang sejarah emas pidato Presiden Soekarno di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1960.
Prabowo hadir untuk memimpin langsung delegasi Indonesia pada Sidang Majelis Umum PBB ke-80. Setibanya di Bandara Internasional John F. Kennedy, sang Presiden langsung menuju hotel untuk mempersiapkan agenda super padat yang menanti. Ia tidak sendiri Menteri Luar Negeri Sugiono, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, hingga jajaran menteri strategis turut serta dalam rombongan.
Disejajarkan dengan Soekarno
Pengamat hubungan internasional Teuku Rezasyah menilai, pidato Prabowo kali ini berpotensi menjadi “Memory of the World”, sebuah momen diplomasi yang dikenang dunia seperti pidato Bung Karno 65 tahun lalu.
“Pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Umum PBB 2025 ini bisa menjadi tonggak sejarah baru. Dunia akan mencatatnya,” tegas Reza, Minggu (21/9/2025).
Menurutnya, Prabowo akan mengusung filosofi kebangsaan, tradisi diplomasi Indonesia, hingga solusi konkret atas krisis global. Dari kesenjangan ekonomi, kerusakan bumi, hingga bahaya nuklir semua akan disentuh dengan narasi optimisme khas Prabowo.
Indonesia Banjir Undangan Diplomasi
Bukan hanya pidato. Delegasi Indonesia telah dikurasi menghadiri sekitar 200 pertemuan bilateral di sela Sidang Majelis Umum PBB. Dari bisnis, investasi, pengungsi, kesehatan global, hingga lingkungan hidup Indonesia hadir di semua lini.
“Indonesia menerima 258 tawaran pertemuan, dan 200 di antaranya dipilih secara ketat. Ini bukti betapa dunia menaruh perhatian besar pada Indonesia,” ungkap Direktur Kerja Sama Multilateral Kemenlu, Tri Tharyat.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Investasi Rosan Roeslani, Menteri HAM, hingga Menteri Kesehatan akan bergerak serentak membawa misi nasional. Diplomasi Indonesia tahun ini disebut sebagai salah satu yang paling agresif sepanjang sejarah.
Panggung Emas di Urutan Ketiga
Prabowo akan berpidato di urutan ketiga, tepat setelah Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Posisi ini menempatkan Indonesia dalam sorotan strategis di hadapan 145 negara dengan 137 kepala negara yang hadir langsung.
Momentum ini menegaskan bahwa Indonesia bukan lagi penonton, melainkan aktor utama dalam panggung geopolitik dunia. Pidato Prabowo diyakini akan membuka mata internasional bahwa Indonesia siap berdiri sejajar dengan negara adidaya.
Diplomasi Berkelas Dunia
Lawatan ini bukan sekadar perjalanan luar negeri. Ini adalah diplomasi ofensif Indonesia untuk memastikan kepentingan nasional tidak diabaikan, sekaligus membawa pesan damai bagi dunia.
Dari New York, dunia menunggu: apakah Prabowo akan mengulang jejak Soekarno, atau bahkan melampauinya?
Satu hal pasti, Indonesia tengah bersiap menjadi kekuatan moral dan strategis yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata.***











