Viral! RS Gunung Jati Cirebon Disorot, Pasien Miskin Terlantar

banner 468x60

CIREBON, Radarjakarta.id – Sebuah video yang memperlihatkan aksi protes seorang pria terhadap manajemen Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati, Kota Cirebon, viral di media sosial dan memicu kemarahan publik. Video tersebut menunjukkan dugaan penelantaran seorang pasien dari keluarga tidak mampu lantaran tidak sanggup membayar biaya perawatan.

Video berdurasi singkat itu diunggah oleh akun TikTok @ibnusaechulaw dan telah ditonton hampir satu juta kali. Dalam rekaman, seorang pria bernama Ibnu Saechu terlihat marah-marah kepada petugas rumah sakit karena mendapati pasien yang tampak lemas, terbaring dengan infus kosong, dan diduga tidak diberi makan selama tiga hari.

“Ya Allah, kejam amat pelayanan rumah sakit ini. Dalam penjara saja dikasih makanan, kok di rumah sakit tidak dikasih,” ucap Ibnu dalam video tersebut, dengan nada kecewa dan geram.

Pasien dalam video itu diketahui bernama Ranujaya (18 tahun), warga Jagapura, Kabupaten Cirebon. Ia dirawat di RSD Gunung Jati setelah digigit ular kobra saat bekerja di sawah. Namun setelah menjalani perawatan, keluarganya tak mampu menanggung biaya rumah sakit yang mencapai Rp14,3 juta.

Menurut pengakuan Ibnu, pasien sempat tertahan di rumah sakit dan baru diizinkan pulang setelah membayar sebagian tagihan sebesar Rp1 juta, dengan dirinya bertindak sebagai penjamin.

“Anak ini dari keluarga miskin. Ibunya janda dengan lima anak. Mereka benar-benar tak punya kemampuan membayar. Saya hanya ingin dia pulang dengan layak,” kata Ibnu saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Rumah Sakit Membantah Tuduhan Penelantaran

Menanggapi viralnya video dan sorotan publik, pihak RSD Gunung Jati akhirnya angkat suara. Firman, staf Humas rumah sakit, memastikan bahwa mereka akan segera mengklarifikasi insiden tersebut secara resmi.

Sementara itu, Katibi, perwakilan manajemen RSD Gunung Jati, membantah keras tuduhan bahwa rumah sakit menelantarkan pasien. Ia menjelaskan bahwa sejak dirawat dari Senin hingga Rabu, pasien mendapat layanan medis dan makanan. Namun, menurutnya, keluarga pasien mengajukan permohonan untuk menghentikan status rawat inap pada Rabu sore, yang kemudian disetujui pihak rumah sakit.

“Setelah status rawat inap dihentikan, pasien tidak lagi terdaftar sebagai penerima layanan makan dan minum. Jadi jika disebut tidak makan selama tiga hari, itu tidak akurat,” ujar Katibi.

Ia juga menegaskan bahwa rumah sakit tidak menahan pasien secara fisik. “Kami tidak melakukan penahanan. Semua berjalan berdasarkan komunikasi dengan pihak keluarga,” imbuhnya.

Katibi menyatakan, pasien pulang pada Kamis, setelah membayar sebagian biaya perawatan. “Tidak ada pembiaran. Semua pelayanan diberikan sesuai prosedur,” katanya.

Desakan Investigasi dan Sorotan Layanan Publik

Kasus ini menambah panjang daftar keluhan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit milik pemerintah. Banyak pihak menilai bahwa sistem perlindungan kesehatan bagi warga miskin belum berjalan optimal, meski telah ada skema jaminan seperti JKN dan KIS.

Warganet dan masyarakat sipil mendesak Pemerintah Daerah Cirebon segera melakukan investigasi independen terhadap manajemen RSD Gunung Jati. Mereka menilai, kejadian seperti ini tidak boleh dianggap biasa dan harus ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan rumah sakit, khususnya dalam menangani pasien kurang mampu.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.