JAKARTA, Radarjakarta.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengonfirmasi temuan empat kasus hantavirus sepanjang 2026. Meski sebagian besar pasien telah dinyatakan sembuh, kemunculan virus yang ditularkan melalui tikus ini memicu kewaspadaan baru di tengah masyarakat ibu kota. Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta pun mengingatkan warga agar tidak menganggap remeh ancaman penyakit yang dapat menyebar melalui lingkungan kotor dan terkontaminasi.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Namun, ia meminta warga meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama di area yang rawan terpapar tikus dan limbah kotor. Menurutnya, langkah sederhana seperti mencuci tangan dan menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama mencegah penularan.
Ani menjelaskan, hantavirus bukanlah virus baru karena selama ini telah dipantau secara rutin oleh otoritas kesehatan. Virus tersebut dapat menular dari tikus ke manusia melalui air liur, urine, maupun kotoran tikus yang mencemari udara atau permukaan benda. Risiko penularan meningkat ketika debu yang telah terkontaminasi terhirup tanpa perlindungan.
Karena itu, warga diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di tempat yang kotor, lembap, atau berpotensi menjadi sarang tikus. Penggunaan masker dan alat pelindung diri dinilai penting, khususnya bagi pekerja yang sering berada di gudang, saluran air, bangunan kosong, maupun area padat sampah. Setelah beraktivitas, masyarakat juga diimbau segera mencuci tangan untuk meminimalkan risiko infeksi.
Selain menjaga kebersihan pribadi, Dinkes DKI juga menyoroti pentingnya pengendalian populasi tikus di lingkungan permukiman. Pemerintah meminta masyarakat ikut aktif menjaga sanitasi dan tidak membiarkan tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biaknya tikus yang berpotensi membawa virus berbahaya tersebut.
Berdasarkan catatan Dinkes DKI Jakarta, dari empat kasus yang ditemukan sepanjang tahun ini, tiga pasien mengalami gejala ringan dan telah sembuh. Sementara itu, satu pasien lainnya masih berstatus suspek dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Pemerintah memastikan pemantauan terus dilakukan guna mencegah penyebaran yang lebih luas di Jakarta.|Ucha*











