Nusron Hadapi Mahasiswa yang Mengamuk di UGM, Pilih Dialog daripada Pergi

banner 468x60

YOGYAKARTA, RadarJakarta.id – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid mengungkapkan dirinya sempat mengajak peserta berselawat ketika suasana diskusi bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) berubah gaduh akibat aksi protes ratusan mahasiswa. Pernyataan itu menjadi sorotan publik setelah insiden tersebut viral di berbagai platform media sosial.

Kericuhan bermula ketika sekelompok mahasiswa naik ke atas panggung dan membentangkan sejumlah spanduk penolakan terhadap kehadiran beberapa pejabat negara yang menjadi pembicara dalam forum tersebut. Massa membawa berbagai tuntutan dan kritik terhadap pemerintah, sehingga jalannya diskusi yang semula berlangsung kondusif mendadak terhenti. Situasi kemudian memanas setelah terjadi aksi saling teriak dan dorong antarpeserta di lokasi acara.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dalam keterangannya, Nusron mengaku berupaya meredakan ketegangan dengan pendekatan yang lebih sejuk. Salah satunya dengan mengajak peserta berselawat agar suasana kembali tenang dan dialog dapat dilanjutkan. Namun upaya tersebut belum mampu sepenuhnya mengendalikan situasi karena gelombang protes mahasiswa terus berlangsung.

Meski mendapat tekanan dan hujan kritik, Nusron memilih tetap berada di lokasi untuk berdialog dengan mahasiswa. Bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, ia bahkan sempat turun langsung menemui massa yang menghadang kendaraan mereka. Dialog berlangsung terbuka dengan berbagai isu yang diangkat mahasiswa, mulai dari persoalan agraria, ketimpangan sosial, hingga kebijakan pemerintah di sejumlah daerah.

Di sisi lain, mahasiswa menegaskan aksi mereka merupakan bentuk kritik terhadap kebijakan pemerintah dan kehadiran sejumlah pejabat yang dinilai tidak merepresentasikan semangat reformasi. Beberapa spanduk yang dibentangkan massa berisi penolakan terhadap para pembicara dan tuntutan agar kampus tetap menjadi ruang kritis bagi kebebasan akademik.

Insiden di UGM ini menjadi gambaran dinamika hubungan antara pemerintah dan kelompok mahasiswa yang kembali menghangat. Di satu sisi, pemerintah menilai dialog langsung merupakan jalan terbaik untuk menjembatani perbedaan pandangan. Di sisi lain, mahasiswa menuntut ruang kritik yang lebih substansial terhadap berbagai kebijakan publik. Peristiwa tersebut pun memantik perdebatan luas di masyarakat mengenai efektivitas komunikasi pemerintah dengan generasi muda serta pentingnya menjaga kampus sebagai arena diskusi yang demokratis.*** �

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.