Transformasi inilah yang juga dialami oleh Praktisi Pendidikan Dasar & CEO Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra, yang memulai perjalanannya sebagai guru SD sebelum kemudian berkembang sebagai content creator di bidang pendidikan. Baginya, media sosial bisa menjadi alat advokasi untuk menunjukkan kepada publik bagaimana pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab guru saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab orang tua, pemerintah, dan masyarakat.
“Sebagai contoh, saya sering mengajak siswa-siswi di kelas untuk berpikir kritis tentang isu-isu umum seperti kekerasan ataupun hak masyarakat adat. Tidak hanya itu, saya juga sering mengangkat isu-isu nyata dan dialami siswa-siswi di kelas, seperti sering absen karena harus membantu orang tua berjualan,” ujar Galih.
Galih juga membagikan beberapa tips yang bisa diikuti para guru yang ingin mulai berkarya secara mandiri di luar kelas, di antaranya:
• Kembangkan kompetensi yang relevan
Galih menyampaikan bahwa seorang guru perlu mengasah kemampuan, baik hard skill maupun soft skill, sesuai tujuan yang ingin dicapai. Misalnya, untuk meningkatkan kemampuan public speaking, pelajari materi secara mendalam dan tingkatkan kemampuan bahasa Inggris untuk memperluas referensi. Contoh lainnya adalah jika ingin menjadi seorang content creator, selain menguasai kemampuan mengedit video, pahami juga aspek privasi anak dan keamanan digital.
• Hindari multitasking
Galih menyarankan untuk menghindari mengerjakan banyak hal sekaligus agar hasil karya menjadi lebih optimal. Terapkan time blocking untuk mengatur waktu secara efektif dan maksimal. Seperti, menjadwalkan waktu khusus di akhir pekan untuk fokus pada satu kegiatan produktif tanpa distraksi.
• Bergabung dengan komunitas terkait
Untuk guru bisa mempertimbangkan mengikuti komunitas guru seperti Guru Binar. Galih menjelaskan, dengan mengikuti komunitas, para guru bisa saling berbagi pengalaman, berdiskusi, sekaligus belajar bersama sesama pendidik.
• Miliki support system
Memiliki support system yang kuat, baik dari keluarga, rekan kerja, maupun komunitas, sangat penting untuk mendukung produktivitas sekaligus pengembangan karier guru. Galih bercerita bahwa dirinya memiliki suami yang selalu hadir untuk membantu perjalanan dan usahanya sebagai content creator di bidang pendidikan.
• Pahami kebijakan daerah
Setiap daerah memiliki kebijakan pendidikan yang berbeda-beda. Untuk itu, Galih menyarankan untuk memahami peraturan otonomi daerah tempat bertugas akan membantu guru mengambil keputusan yang tepat dalam pelaksanaan tugas, baik di dalam maupun di luar kelas.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Teacherpreneur Workshop bertema “Guru Bermimpi, Guru Berdaya: Buka Peluangmu di Luar Kelas” yang dibawakan oleh Dewi Meisari Haryanti, Founder UKMINDONESIA.ID. Workshop ini menjadi ruang bagi para guru untuk memahami cara meningkatkan kesejahteraan melalui manajemen keuangan yang baik sekaligus mencari penghasilan tambahan mulai dari komisi penjualan, menawarkan jasa, hingga menjual konten materi pembelajaran.
Semua ini bisa tercapai dengan langkah-langkah sederhana, seperti berani menuliskan cita-cita, menyusun anggaran kehidupan, dan pasang target peningkatan penghasilan. Melalui kegiatan ini, PSF menegaskan komitmennya untuk mendorong masyarakat mengubah apresiasi terhadap guru menjadi aksi nyata berupa solidaritas dan dukungan yang dapat dirasakan secara langsung.
“Kami berharap agar para guru di Indonesia bisa semakin berani dalam mengeksplorasi potensi diri, baik dalam mengajar maupun dalam berkarya, berbisnis, serta mengembangkan minat mereka. Sehingga, mereka dapat menjadi pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, bahkan berdaya. Selain itu, peran mereka sebagai agen perubahan dapat terus menyala di tengah dinamika zaman sekarang ini,” tutup Juliana.











