JAKARTA, Radarjakarta.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan memasuki fase yang membutuhkan kewaspadaan tinggi. Kondisi cuaca kering, ancaman El Niño, serta karakteristik lahan gambut membuat pemadaman tidak mudah dilakukan. Pemerintah pun memperkuat operasi terpadu melalui pengerahan personel darat, patroli udara, water bombing hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan termasuk wilayah prioritas penanganan karhutla. Hingga 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai sekitar 48.889,69 hektare, dengan Kalimantan Barat menjadi wilayah terdampak terluas, yakni sekitar 28.680,47 hektare.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari faktor meteorologis. BMKG mencatat puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Juli–September, sementara sebagian besar wilayah Kalimantan diperkirakan memasuki puncak kemarau pada Agustus. BMKG juga menyatakan kondisi kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibanding kondisi normal, seiring peluang El Niño yang masih kuat.
Dalam analisis dasarian pertama Agustus, BMKG mencatat nilai indeks ENSO Nino3.4 mencapai +2,77, yang menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat. Sejumlah wilayah Kalimantan juga masuk dalam kategori daerah yang perlu mewaspadai kekeringan meteorologis. Kondisi vegetasi dan lahan yang semakin kering membuat api lebih mudah menyala dan cepat merambat.
Tantangan semakin besar ketika kebakaran terjadi di kawasan gambut. BNPB menjelaskan bahwa pemadaman di lahan gambut memiliki tingkat kesulitan tinggi karena api dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan. Di Kalimantan Barat, strategi pemadaman dilakukan secara bersamaan melalui penyemprotan dari darat dan water bombing menggunakan helikopter.
Menghadapi situasi tersebut, pemerintah memperkuat operasi gabungan dengan mengoptimalkan satgas darat dan udara. Di Kalimantan Tengah, BNPB juga mendorong penambahan dukungan pesawat untuk OMC serta mengerahkan helikopter patroli dan water bombing guna mempercepat pengendalian titik api.
Dampak karhutla juga berpotensi meluas melampaui wilayah sumber kebakaran ketika asap terbawa angin. Laporan terkini menunjukkan kabut asap dari kebakaran di Pulau Borneo telah berdampak hingga wilayah Malaysia, sementara pemerintah Indonesia mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
BNPB menegaskan pencegahan menjadi bagian penting dalam menghadapi puncak risiko karhutla Agustus–September. Masyarakat diminta tidak membakar lahan maupun membuang sumber api sembarangan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, dunia usaha dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.|Yani*











