TANGERANG, Radarjakarta.id — Persahabatan sejati tidak selalu ditentukan oleh seberapa sering seseorang berada di tempat yang sama. Waktu, jarak, bahkan pilihan jalan hidup yang berbeda pun tidak selalu mampu memisahkan mereka yang telah memiliki ikatan kuat.
Kisah itu tergambar dalam persahabatan tiga sekawan alumni SMK Bhakti Anindya angkatan 2025-2026, yakni Cut Meiliana, Nisel Lie, dan Nazwa Dedtyani Jasmine. Selama tiga tahun menempuh pendidikan di bangku SMK, ketiganya hampir selalu bersama, terutama saat mengikuti kegiatan belajar maupun berbagai aktivitas di lingkungan sekolah.

Kebersamaan yang terjalin sejak masa sekolah membuat mereka tidak hanya menjadi teman sekelas atau teman belajar, tetapi juga menjadi sahabat yang saling mendukung. Tawa, cerita, tugas sekolah, hingga berbagai pengalaman selama tiga tahun menjadi kenangan yang hingga kini masih mereka simpan.
Namun, setelah lulus SMK, perjalanan mereka memasuki babak baru. Ketiganya memilih melanjutkan pendidikan tinggi di universitas yang berbeda. Cut Meiliana kini menempuh pendidikan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Nisel melanjutkan kuliah di Universitas Pradita, sedangkan Nazwa memilih Universitas Multimedia Nusantara (UMN).
Perbedaan kampus membuat intensitas pertemuan mereka tidak lagi seperti ketika masih berseragam SMK. Jadwal kuliah, lingkungan pergaulan, tugas akademik, serta kesibukan masing-masing membuat mereka memiliki kehidupan yang berbeda.

Meski demikian, perbedaan tersebut tidak mengubah hubungan mereka. Komunikasi tetap terjaga dan rasa saling peduli tetap menjadi bagian dari persahabatan tiga sekawan tersebut. Bagi mereka, persahabatan bukan tentang harus selalu berada di tempat yang sama, melainkan tentang tetap hadir ketika sahabat membutuhkan.
Kini, masing-masing sedang mengejar cita-cita di kampus pilihannya. Cut Meiliana, Nisel, dan Nazwa mungkin tidak lagi duduk bersama setiap hari seperti saat SMK. Namun, tiga tahun kebersamaan telah menjadi fondasi yang membuat persahabatan mereka tetap bertahan.
Kisah tiga sekawan ini menjadi pengingat bahwa jarak dan perbedaan pilihan pendidikan bukan alasan untuk mengakhiri sebuah persahabatan. Justru ketika kehidupan membawa mereka ke jalan masing-masing, kesetiaan, komunikasi, dan rasa saling menghargai menjadi bukti bahwa persahabatan yang tulus dapat bertahan melewati perubahan zaman.***











