JAKARTA, Radarjakarta.id – Pengungkapan jaringan judi online internasional yang diumumkan Bareskrim Polri pada 9 Mei 2026, setelah operasi penindakan pada 7 Mei 2026 di Hayam Wuruk Plaza Tower, Jakarta Barat, menjadi salah satu bukti paling nyata bahwa transformasi Polri di era digital terus menunjukkan hasil yang membanggakan.
Dalam operasi tersebut, Polri mengamankan 321 warga negara asing dari berbagai negara Asia, menyita ratusan perangkat elektronik, paspor, perangkat jaringan, serta uang tunai sekitar Rp1,9 miliar dan sejumlah mata uang asing.
Sekitar 75 domain yang diduga digunakan untuk menjalankan jaringan perjudian daring lintas negara kini tengah ditelusuri lebih lanjut untuk mengungkap struktur jaringan, aliran dana, dan aktor intelektual di balik operasi tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap bangsa Indonesia telah berubah secara mendasar. Kejahatan modern tidak lagi selalu hadir dalam bentuk konvensional, tetapi berkembang menjadi sistem digital yang terorganisasi, memanfaatkan teknologi, bergerak lintas negara, dan mampu menguras kekayaan masyarakat secara senyap.
Judi online merupakan salah satu ancaman paling destruktif karena menghancurkan ekonomi keluarga, memicu utang, mengganggu kesehatan mental, serta mengalirkan uang rakyat ke jaringan kriminal internasional yang tidak memiliki kepedulian sedikit pun terhadap masa depan bangsa.
Dalam situasi seperti ini, negara membutuhkan institusi kepolisian yang tidak hanya kuat secara operasional, tetapi juga unggul dalam cyber intelligence, digital forensics, analisis keuangan, dan kerja sama internasional.
Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care Dan Haidar Alwi Institute, Serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menilai bahwa keberhasilan ini merupakan bukti konkret bahwa transformasi Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah berkembang menjadi arsitektur keamanan nasional yang semakin modern, adaptif, dan berkelas dunia.
“Di era digital, kejahatan tidak lagi selalu membawa senjata. Ia hadir dalam bentuk server, algoritma, dan jaringan keuangan internasional yang bekerja diam-diam menguras harapan masyarakat. Ketika Polri mampu membongkar operasi yang melibatkan ratusan warga negara asing dan menelusuri jejak digital lintas negara, sesungguhnya yang sedang dijaga bukan hanya penegakan hukum, tetapi kedaulatan digital Indonesia. Inilah manifestasi Presisi, yaitu titik ketika ilmu pengetahuan, teknologi, dan integritas bertemu menjadi sistem perlindungan nasional yang bekerja secara cerdas, cepat, dan terukur,” tegas Haidar Alwi.
Dari sinilah terlihat bahwa pengungkapan kasus ini bukan sekadar keberhasilan operasional, melainkan penanda bahwa Polri telah tumbuh menjadi institusi keamanan modern yang mampu membaca ancaman global dan meresponsnya dengan standar profesionalisme yang semakin tinggi.
Presisi Kapolri Menjadi Fondasi Transformasi Polri
Visi Presisi yang diusung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yaitu Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan, tampak nyata dalam pengungkapan ini. Prediktif tercermin dari kemampuan Polri mendeteksi pola aktivitas mencurigakan. Responsibilitas terlihat dalam operasi yang cepat, terukur, dan terkoordinasi. Transparansi Berkeadilan tampak dari keterbukaan Polri dalam menyampaikan hasil penindakan kepada masyarakat.
Menurut Haidar Alwi, kemampuan Polri melacak domain, server, IP address, dokumen keimigrasian, serta aliran dana menunjukkan bahwa institusi ini telah memasuki fase baru sebagai penegak hukum berbasis sains dan teknologi. Di balik satu operasi besar terdapat sinergi Bareskrim, Brimob, laboratorium forensik, serta berbagai unsur pendukung lain yang bekerja secara presisi.
“Presisi adalah kemampuan negara membaca ancaman sebelum kerusakan menjadi krisis. Ketika polisi dapat mengikuti jejak data, menelusuri arus uang, dan mengurai struktur kejahatan lintas negara, maka hukum tidak lagi hanya hadir sebagai reaksi, tetapi sebagai sistem proteksi strategis yang menjaga stabilitas bangsa sejak dari akarnya,” jelas Haidar Alwi.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa transformasi Polri bukan sekadar modernisasi peralatan, tetapi pembangunan sistem berpikir yang semakin ilmiah, adaptif, dan visioner dalam menghadapi tantangan keamanan masa depan.











