DELI SERDANG, Radarjakarta.id – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi anak sekolah, mendadak menuai sorotan tajam. Sejumlah siswa SD Swasta Assifa di Desa Jati Rejo, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deliserdang, dilarikan ke puskesmas setelah diduga mengalami keracunan makanan, Selasa (28/4/2026).
Peristiwa ini sontak memicu kepanikan. Anak-anak yang sebelumnya mengikuti kegiatan belajar, tiba-tiba mengeluh mual, muntah, dan sakit perut hebat beberapa jam setelah menyantap menu MBG berupa ayam bakar. Wali murid yang mendapat kabar tersebut langsung bergegas menuju fasilitas kesehatan, menyaksikan anak-anak mereka terbaring lemah dalam perawatan.
Kepala Sekolah SD Swasta Assifa, Khairul Amri, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebutkan, sedikitnya 11 siswa terdampak, dengan 8 di antaranya harus menjalani perawatan intensif di puskesmas rawat inap, sementara 3 lainnya diperbolehkan pulang dengan rawat jalan.
“Gejala muncul sekitar tiga jam setelah makan. Anak-anak mengeluh mual, muntah, dan sakit perut. Bahkan ada yang menyebut aroma ayamnya sudah tidak segar,” ungkap Khairul.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Deliserdang, Suparno, turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi para siswa sekaligus melakukan koordinasi penanganan. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menyelidiki secara menyeluruh dugaan keracunan tersebut, termasuk menelusuri sumber makanan MBG yang dikonsumsi siswa.
Di sisi lain, pihak tenaga kesehatan masih melakukan observasi intensif guna memastikan penyebab pasti kejadian ini. Sampel makanan juga disebut akan diuji laboratorium untuk memastikan apakah benar terjadi kontaminasi atau faktor lain yang memicu gejala tersebut.
Situasi di puskesmas dipenuhi kecemasan. Orang tua, tokoh masyarakat, hingga aparat kepolisian dan Koramil tampak berjaga, memantau perkembangan kondisi para siswa. Meski sebagian anak mulai menunjukkan tanda pemulihan, kekhawatiran masih membayangi.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program MBG. Di satu sisi, program ini diharapkan meningkatkan kualitas gizi anak. Namun di sisi lain, insiden ini menuntut evaluasi ketat terhadap standar keamanan dan distribusi makanan agar kejadian serupa tidak terulang.|Al Pane*











