Denta Mandra Berbagi Perspektif Mengenai Harmoni Seni Pertunjukan

Workshop Harmoni Seni Pertunjukan Dalam Rangka Aktivasi Desa Kreatif. (Foto: Ist)
banner 468x60

DEPOK, Radarjakarta.id – Dr. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds., M.Si., dari Sanggar Ayodya Pala Kota Depok berbagi perspektif mengenai harmoni seni pertunjukan dengan menekankan pentingnya penguatan kelembagaan.

Denta memaparkan hal tersebut saat menjadi nara sumber kegiatan Workshop Harmoni Seni Pertunjukan Dalam Rangka Aktivasi Desa Kreatif yang diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui Direktorat Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Serba Guna Lantai 1, Gedung Serba Guna Perkampungan Budaya Betawi, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Dia menambahkan, keberlanjutan aktivitas sanggar, dan kolaborasi dalam membangun ekosistem seni dan budaya yang produktif.

“Workshop ini menjadi wadah bagi para pegiat seni pertunjukan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, memperluas jejaring, serta membangun kolaborasi antara komunitas seni dan para pemangku kepentingan dalam mendukung keberlanjutan aktivasi desa kreatif,” katanya.

Dalam paparannya yang bertajuk Harmoni Seni Pertunjukan, Denta menyoroti pentingnya menempatkan sanggar seni sebagai pusat pembelajaran, penciptaan karya, produksi, dan regenerasi pelaku seni.

Menurut pendekatan yang disampaikan dalam materi tersebut, keberlanjutan seni pertunjukan tidak cukup hanya mengandalkan penyelenggaraan pentas.

“Kami rasa perlu ditopang oleh aktivitas sanggar yang berlangsung secara konsisten,” ujarnya.

Dia menambahkan, sanggar seni perlu terus hidup di antara satu pertunjukan dan pertunjukan berikutnya melalui kegiatan latihan rutin, transfer keterampilan, kelas terbuka, diskusi, evaluasi produksi, serta kolaborasi dengan komunitas dan subsektor ekonomi kreatif lainnya.

Pendekatan tersebut menempatkan sanggar bukan sekadar sebagai tempat latihan, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem yang menjaga keberlangsungan proses kreatif, pengembangan talenta, dan pewarisan seni budaya kepada generasi berikutnya.

“Kami juga mengusulkan pola aktivitas yang terstruktur, mulai dari kegiatan mingguan berupa latihan dan pencatatan peserta, kegiatan bulanan berupa kelas terbuka dan evaluasi produksi, hingga kegiatan triwulanan berupa pentas, pameran, kolaborasi, dan penyusunan laporan kegiatan,” ungkapnya.

Pola ini dapat menjadi salah satu acuan bagi pengelola sanggar untuk membangun tata kelola yang lebih terencana dan berkelanjutan.

Selain penguatan kelembagaan, materi yang disampaikan juga menekankan pentingnya kolaborasi antara seni pertunjukan dan seni rupa.

Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui penggabungan musik, tari, teater, dan dramaturgi dengan desain artistik, topeng, instalasi, properti, busana, kriya, tata rias, fotografi, serta produksi video.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.