JAKARTA, RadarJakarta.id — PT Azwari Berlian Traaz bersama Ikatan Alumni Pariwisata Trisakti (IKAPTRI) menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk mendorong pengembangan ekosistem pariwisata ramah Muslim di Indonesia. Penandatanganan berlangsung di Kampus Institut Pariwisata Trisakti, Jakarta, Rabu (21/10/2026), dengan mengusung tema “Sinergi Pembangunan Ekosistem Pariwisata Ramah Muslim dan Pembentukan Indonesia Halal Tourism Hub”.
Kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat hubungan antara dunia pendidikan, organisasi alumni, pelaku usaha, dan industri pariwisata. Program yang direncanakan mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pendampingan usaha, penguatan jejaring industri, serta pembukaan peluang kerja sama berkelanjutan. Informasi mengenai penandatanganan tersebut juga dimuat dalam situs resmi Institut Pariwisata Trisakti. <Link url=”https://iptrisakti.ac.id/ikaptri-dan-pt-azwari-berlian-traaz-tandatangani-mou-dorong-sinergi-pembangunan-ekosistem-pariwisata-ramah-muslim/” title=”Baca publikasi Institut Pariwisata Trisakti”/>.
PT Azwari Berlian Traaz diwakili Komisaris Ratni Ernita dan Direktur Utama Ita Kurniawati. Dari IKAPTRI, hadir Ketua Umum Catur Prasetyo, Sekretaris Jenderal Tetty Arianto, Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga Ferdin Boy, serta perwakilan Litbang Krianti Kurniawan. Rektor Institut Pariwisata Trisakti Fetty Asmaniati dan Wakil Rektor III Novita Widyastuti turut menghadiri kegiatan tersebut.
Salah satu agenda yang diusung adalah pembentukan Indonesia Halal Tourism Hub, sebuah platform kolaborasi yang dirancang untuk mempertemukan institusi pendidikan, alumni, pelaku usaha, praktisi, dan mitra industri. Rencana pengembangannya meliputi empat pilar, yakni riset dan kebijakan, peningkatan kompetensi melalui Akademi IKAPTRI, pendampingan usaha dan digitalisasi, serta pengembangan bisnis dan investasi.
Melalui kemitraan ini, kedua pihak berharap alumni memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengikuti pelatihan, mengembangkan profesionalisme, dan terlibat dalam proyek kolaboratif. Kerja sama tersebut juga diharapkan membantu pelaku usaha meningkatkan kesiapan dan kualitas layanan bagi wisatawan Muslim. Namun, tujuan tersebut masih perlu dibuktikan melalui program nyata dan hasil yang dapat diukur.
Dari sisi pelaksanaan, sejumlah hal penting masih perlu diperjelas, antara lain jadwal kegiatan, sasaran penerima manfaat, pembagian tanggung jawab, alokasi sumber daya, serta indikator keberhasilan. Rincian tersebut belum dijelaskan dalam informasi yang tersedia. Karena itu, penandatanganan MoU ini menjadi langkah awal kemitraan, bukan bukti bahwa seluruh program telah berjalan atau memberikan hasil konkret.
Keberhasilan kerja sama PT Azwari Berlian Traaz dan IKAPTRI pada akhirnya akan ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan, evaluasi berkala, serta manfaat yang dirasakan alumni dan pelaku industri. Pembentukan ekosistem pariwisata ramah Muslim berpotensi memperluas kolaborasi dan meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia, tetapi realisasinya tetap bergantung pada tindak lanjut yang terencana dan transparan. |Hendra*











