MOSKOW, Radarjakarta.id – Akademisi Universitas Indonesia (UI), Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI).
Hal tersebut disampaikan Devie saat menjadi pembicara dalam Global Digital Forum II 2026 di Moskow, Rusia, yang diikuti peserta dari lebih dari 100 negara, termasuk akademisi, pengembang teknologi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan digital.
Dalam forum tersebut, Devie menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak cukup diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memanfaatkannya untuk menciptakan peluang usaha, lapangan kerja, dan kesejahteraan.
“Dunia sedang berlomba mencerdaskan mesin. Tetapi tugas terbesar kita adalah memastikan bahwa kecerdasan mesin ikut memperluas kesempatan manusia,” ujar pengajar Program Vokasi UI tersebut.
Menurut Devie, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif melalui kekayaan budaya, kreativitas, dan talenta nasional. Potensi itu perlu diperkuat dengan dukungan kebijakan, akses pembiayaan, teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah, regulator, dunia usaha, dan lembaga pendidikan.
## KADIN dan OJK Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif
Salah satu bentuk kolaborasi yang disoroti Devie adalah peran Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkuat ekosistem pembiayaan bagi industri kreatif, termasuk sektor penyelenggaraan acara atau *event*.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Penyelenggara Acara, Ria Yusnita, menilai industri *event* memiliki dampak ekonomi luas karena melibatkan berbagai sektor, mulai dari pariwisata, perhotelan, transportasi, kuliner, teknologi hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Ketika Indonesia menyelenggarakan konser, konferensi internasional, festival budaya, atau pameran industri, yang bergerak bukan hanya perusahaan penyelenggara acara. Ada ribuan pekerja kreatif, UMKM, penyedia teknologi, transportasi, perhotelan, dan berbagai usaha pendukung yang ikut memperoleh manfaat,” kata Ria.
Ia mencontohkan kajian dampak ekonomi konser Coldplay di Jakarta yang dihadiri sekitar 78.500 penonton. Kegiatan tersebut diperkirakan menghasilkan output ekonomi Rp843,2 miliar, nilai tambah sekitar Rp434,6 miliar, serta pendapatan pekerja sekitar Rp150,8 miliar.
Menurut Ria, angka tersebut menunjukkan bahwa industri *event* tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi lintas sektor.
Karena itu, KADIN mendorong penguatan akses pembiayaan bagi perusahaan kreatif melalui kolaborasi dengan OJK, asosiasi industri, dan lembaga jasa keuangan.
Skema pembiayaan yang sesuai dengan karakter bisnis kreatif dinilai penting, terutama karena penyelenggaraan acara membutuhkan modal kerja yang disesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan setiap proyek.
“Ketika pemerintah, regulator, lembaga keuangan, dan industri bergerak bersama, kita sedang memperkuat fondasi agar perusahaan kreatif Indonesia semakin kompetitif dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” jelas Ria.
Selain pembiayaan, KADIN juga mendorong peningkatan sertifikasi kompetensi, tata kelola usaha, dokumentasi rekam jejak proyek, perlindungan pekerja, dan pengembangan data industri.
## Apresiasi Peran OJK dalam Perlindungan Konsumen Digital
Selain menyoroti pembiayaan ekonomi kreatif, Devie mengapresiasi upaya OJK dalam memperkuat perlindungan konsumen di tengah meningkatnya risiko penipuan transaksi keuangan digital.
Salah satu inisiatif yang disorot adalah Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), pusat koordinasi penanganan penipuan transaksi keuangan yang melibatkan OJK, Satgas PASTI, industri jasa keuangan, dan berbagai lembaga terkait.
Berdasarkan data OJK yang dicantumkan dalam bahan keterangan hingga 30 September 2026, IASC telah menerima 702.342 laporan, memfasilitasi pemblokiran 702.833 rekening, serta memblokir dana terkait penipuan senilai sekitar Rp811,1 miliar. Sementara dana yang berhasil dikembalikan kepada korban disebut mencapai sekitar Rp207,16 miliar.
Devie menilai upaya tersebut menunjukkan pentingnya menyeimbangkan inovasi keuangan dengan keamanan dan kepercayaan masyarakat.
“Ekonomi digital tidak akan tumbuh secara berkelanjutan tanpa kepercayaan. Inovasi dan perlindungan konsumen bukan pilihan yang saling bertentangan, melainkan fondasi yang saling menguatkan,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan pembiayaan ekonomi kreatif dan perlindungan konsumen digital merupakan dua aspek penting dalam membangun ekosistem ekonomi modern yang produktif sekaligus aman bagi masyarakat.
## Belajar dari Ekosistem Inovasi Rusia
Dalam forum tersebut, Devie juga menyoroti Skolkovo Innovation Center di Rusia sebagai salah satu contoh pengembangan ekosistem inovasi yang menghubungkan peneliti, pelaku usaha, investor, dan lembaga pendukung.
Menurutnya, kemajuan teknologi membutuhkan dukungan ekosistem agar dapat berkembang menjadi produk, perusahaan, dan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
“AI dapat membantu manusia menciptakan ide dalam hitungan detik. Tetapi untuk mengubah ide menjadi usaha yang bertumbuh, kita membutuhkan jejaring, kepercayaan, pembiayaan, tata kelola, dan kesempatan,” katanya.
Devie menegaskan, Indonesia perlu mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kolaborasi antarlembaga agar potensi ekonomi kreatif dapat berkembang lebih luas.
Sementara itu, Ria Yusnita menyatakan KADIN akan terus mendorong kerja sama produktif untuk meningkatkan skala usaha dan daya saing perusahaan kreatif nasional.
“Indonesia memiliki kekayaan kreativitas yang luar biasa. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, kita tidak hanya ingin menjadi tuan rumah berbagai acara besar, tetapi juga menjadi pusat industri kreatif yang profesional, produktif, dan diperhitungkan dunia,” ujar Ria.
Devie, yang juga menjabat Wakil Ketua Komite Tetap Regulasi, Kebijakan, dan Standardisasi Industri Event KADIN Indonesia Pusat, menutup dengan menekankan bahwa keberhasilan transformasi digital harus diukur dari manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, teknologi, kreativitas, kolaborasi, dan kepercayaan perlu berjalan beriringan agar Indonesia mampu memperkuat daya saing ekonomi kreatif di tingkat global.











