JAKARTA, Radarjakarta.id — Sehari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).
Aksi bertajuk “Merebut Kemerdekaan” tersebut menjadi momentum mahasiswa mempertanyakan kembali makna kemerdekaan setelah 81 tahun Indonesia merdeka. BEM UI menyatakan aksi ini berangkat dari sejumlah persoalan yang dinilai masih dihadapi masyarakat, mulai dari ekonomi, agraria, tata kelola pemerintahan hingga ruang sipil.
Sebelum menuju Bundaran HI, massa aksi dijadwalkan berkumpul di Lapangan FISIP UI sekitar pukul 10.00 WIB. Massa kemudian bergerak menuju titik aksi dan diperkirakan tiba di Bundaran HI sekitar pukul 13.00 WIB. Peserta aksi juga menyerukan keterlibatan berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi bersama.
Dalam aksinya, BEM UI membawa delapan tuntutan utama. Pertama, menghentikan apa yang mereka sebut sebagai penjajahan negara terhadap rakyat sendiri. Kedua, menghentikan praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Ketiga, mewujudkan reforma agraria sejati. Keempat, menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
Tuntutan kelima adalah evaluasi total terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) serta penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Keenam, BEM UI meminta penghentian pemusatan kekuasaan, menolak pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), serta mengembalikan otonomi daerah.
Tuntutan ketujuh berkaitan dengan penanganan bencana. BEM UI mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk wilayah Sumatra dan Flores serta mempercepat pemulihan daerah terdampak. Kedelapan, mahasiswa meminta penghentian tindakan represif dan intervensi TNI-Polri di ruang sipil serta pembubaran YON TP.
Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI 2026, Hafidz, mengatakan aksi tersebut berangkat dari kajian aliansi BEM se-UI yang mempertanyakan makna kemerdekaan setelah 81 tahun Indonesia berdiri. Pertanyaan yang diangkat dalam kajian itu adalah, “81 tahun, merdeka untuk siapa?”
Aksi ini juga mendapat perhatian karena berlangsung sehari setelah rangkaian perayaan HUT ke-81 RI. Bagi BEM UI, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi harus tercermin melalui pemenuhan hak masyarakat, kehidupan ekonomi yang layak, demokrasi, serta kebebasan menyampaikan aspirasi.
Sejumlah kelompok mahasiswa lain turut menyatakan akan terlibat dalam aksi tersebut, di antaranya Front Mahasiswa Nasional (FMN) UI, PNJ dan IPB. Mereka juga membawa sejumlah isu seperti pendidikan gratis, harga kebutuhan pokok dan BBM, penghentian MBG dan KDMP, serta penolakan terhadap militerisme di ranah sipil.
Dengan delapan tuntutan tersebut, aksi BEM UI di Bundaran HI menjadi salah satu sorotan politik dan sosial pada awal pekan setelah perayaan kemerdekaan. Aspirasi mahasiswa kini akan berhadapan dengan respons pemerintah, sekaligus menjadi bagian dari dinamika demokrasi Indonesia dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan negara.***











