Namun, kondisi angkot saat ini menghadapi berbagai tantangan. Usia kendaraan yang terus bertambah, meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi dan transportasi daring, serta banyaknya pilihan moda transportasi membuat angkot semakin sulit beroperasi.
“Angkot saat ini dalam kondisi mati suri. Faktor kejenuhan transportasi dan meningkatnya mobilitas masyarakat menjadi tantangan. Karena itu, perlu ada perhatian dan kebijakan yang konsisten dari pemerintah,” katanya.
Terkait wacana pengembangan angkot maupun penggunaan kendaraan listrik, Freddy mengatakan hal tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan Pemerintah Kota Depok.
Ia berharap pemerintah membuka ruang bagi pengembangan transportasi publik yang lebih tertata, nyaman, dan tetap terjangkau.
“Kamj juga berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah memberikan dukungan melalui program subsidi transportasi,” katanya.
Menurutnya, subsidi yang tepat sasaran dapat membantu mengaktifkan kembali angkot yang saat ini tidak beroperasi.
Kalau ada subsidi, angkot-angkot yang sudah mati suri diharapkan bisa kembali melayani masyarakat.
Perbaikan angkot juga harus dilakukan agar transportasi menjadi lebih tertata dan nyaman, terutama untuk masyarakat kecil yang sangat membutuhkan angkutan dengan tarif terjangkau.
Dalam momentum Harhubnas 2026, Freddy berharap sistem transportasi di Indonesia, khususnya Kota Depok, semakin terintegrasi sehingga mampu menghubungkan masyarakat dari satu kawasan ke kawasan lainnya.











